Minggu, 1 Maret 2026

Konflik AS-Israel Kontra Iran Bisa Picu Krisis Energi dan Perang Global

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Kepulan asap terlihat membubung di atas cakrawala Teheran saat serangan udara menghantam ibu kota Iran pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Getty Images

Satria Unggul Wicaksana Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menilai, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel melawan Iran sebagai situasi yang sangat mengkhawatirkan, dan berpotensi mengancam perdamaian serta keamanan internasional.

Situasi tegang meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran terjadi di tengah proses perundingan damai yang berlangsung di Swiss, termasuk di Jenewa dan Wina.

Serangan awal dilaporkan terjadi di Teheran dan kemudian dibalas oleh Iran dengan menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Peningkatan eskalasi itu mengakibatkan Ayatollah Khomeini Pemimpin Tertinggi Iran meninggal dunia akibat serengan udara yang dilancarkan AS dan Israel.

TV Pemerintah Iran secara resmi menginformasikan kabar duka tersebut dengan menyebut Ayatollah Ali Khamenei “telah mencapai syahid” setelah kompleks kediamannya di jantung kota Teheran dihantam puluhan bom dalam operasi militer gabungan.

“Ini menunjukkan adanya situasi yang sangat berbahaya bagi perdamaian dan keamanan internasional. Dampak perang itu luar biasa besar dan masyarakat dunia pada dasarnya tidak ingin kembali pada eskalasi konflik bersenjata,” katanya kepada suarasurabaya.net pada Minggu (1/3/2026).

Dia mengingatkan, pascaterjadinya Perang Dunia II, negara-negara dunia telah menyepakati Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mewajibkan setiap negara menahan diri dari penggunaan kekuatan militer.

“Dalam Piagam PBB, khususnya Pasal 2 ayat 3 dan Pasal 2 ayat 7, jelas disebutkan bahwa semua negara harus menahan diri dari penggunaan kekerasan yang mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain,” ucapnya.

Menurut Satria, serangan yang dilakukan di tengah perundingan damai juga berpotensi menggugurkan semangat non-proliferation of nuclear weapons atau pelarangan pengembangan senjata nuklir. Terlebih, tindakan tersebut bukan kali pertama Israel melakukan serangan bersifat ekstrateritorial.

“Kalau kita lihat rekam jejaknya, Israel sebelumnya juga melakukan serangan ke Gaza dan Rafah di Palestina yang telah menyebabkan kehancuran besar dan korban sipil,” ujarnya.

Dia merujuk pada pandangan William Schabas dalam bukunya The International Criminal Law, yang menyebut unsur genosida terpenuhi apabila terdapat niat untuk menghancurkan suatu kelompok etnis atau bangsa.

Satria juga menyoroti rangkaian serangan ekstrateritorial Israel ke Iran dan wilayah lain, termasuk Doha di Qatar, yang menurutnya hal tersebut menunjukkan tidak adanya itikad baik untuk menahan diri demi menjaga perdamaian global.

“Sekuel serangan semacam ini memperlihatkan bahwa perdamaian dan keamanan internasional tidak menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Satria mengingatkan, eskalasi konflik itu membuka peluang terjadinya Perang Dunia Ketiga. Dalam hal ini, dia menyebut Iran tidak berdiri sendiri karena memiliki aliansi dengan negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, hingga Korea Utara.

“Konflik ini bisa merembet ke kawasan lain, mulai dari Taiwan, Laut Cina Selatan, Ukraina, hingga Semenanjung Korea. Jika itu terjadi, dunia berada di titik nadir konflik global,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, dampak yang paling mungkin terjadi adalah krisis energi global. Dia menyinggung soal pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah yang banyak melewati Selat Hormuz, yang berada di bawah yurisdiksi Iran.

“Jika terjadi blokade, dampaknya akan sangat signifikan bagi Eropa dan Asia,” tegasnya.

Selain itu, gangguan di Terusan Suez juga berpotensi melumpuhkan lebih dari 30 persen jalur perdagangan dunia.

Menyikapi hal tersebut, Satria mendorong adanya tekanan internasional yang lebih kuat melalui Dewan Keamanan PBB untuk segera mengakhiri konflik bersenjata tersebut.

“Kita mendorong para pemimpin dunia yang memegang kendali senjata pemusnah massal untuk menahan diri. Dampak perang akan dirasakan semua pihak, baik yang terlibat langsung maupun tidak. Dunia berharap perdamaian segera terwujud dan eskalasi konflik tidak terus meningkat,” pungkasnya.(ris/bil/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Minggu, 1 Maret 2026
33o
Kurs