Konflik bersenjata antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran dinilai telah memasuki fase yang jauh melampaui perkiraan awal.
Dalam sepuluh hari terakhir, eskalasi militer tidak hanya berdampak pada dua negara yang berperang, tetapi juga mulai mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah hingga pasar energi global.
Mahfuz Sidik Ketua Komisi I DPR periode 2010-2017 menilai perkembangan konflik tersebut menunjukkan bahwa perang yang awalnya diperkirakan terbatas justru berpotensi berubah menjadi konflik kawasan dengan implikasi geopolitik yang luas.
Menurut Mahfuz, salah satu hal yang melampaui kalkulasi militer Israel dan Amerika Serikat adalah kemampuan Iran melancarkan serangan balasan yang menjangkau berbagai target strategis.
“Perang ini sudah memasuki hari kesepuluh dan tidak ada tanda-tanda akan segera berakhir. Yang melampaui perkiraan Israel dan Amerika Serikat adalah kemampuan Iran melakukan pembalasan langsung ke wilayah Israel dan juga ke berbagai kepentingan militer AS di kawasan,” ujar Mahfuz dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir Iran tidak hanya fokus pada serangan ke Israel, tetapi juga menargetkan berbagai objek vital di kawasan, termasuk pelabuhan, bandara, hingga fasilitas energi di sejumlah negara Teluk.
Langkah tersebut, menurut Mahfuz, secara efektif telah mengubah konflik yang awalnya bersifat bilateral menjadi konflik kawasan yang berdampak luas.
“Memasuki hari-hari awal perang saja Iran sudah berhasil mengubah konflik ini menjadi perang kawasan dengan dampak tekanan global,” katanya.
Mahfuz menilai serangan terhadap infrastruktur strategis tersebut juga menciptakan efek domino pada sektor ekonomi internasional. Salah satu dampak yang paling terasa adalah lonjakan harga energi dunia.
Blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman energi global, menyebabkan gangguan serius terhadap distribusi minyak dan gas.
Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam.
“Pada Minggu (8/3/2026) harga minyak mentah dunia sudah menyentuh angka sekitar 107 dolar AS per barel setelah adanya serangan terhadap fasilitas energi Iran. Bahkan Rusia sudah menawarkan minyaknya dengan harga sekitar 105 dolar per barel,” kata Mahfuz.
Lonjakan harga energi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu indikator bahwa konflik ini tidak lagi sekadar perang militer, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi global.
Di sisi lain, Mahfuz juga menyoroti situasi domestik di Israel yang mulai menunjukkan gejala ketidakpuasan publik terhadap perang yang berlangsung.
Ia menyinggung adanya demonstrasi warga di Habima Square, Tel Aviv, pada 7 Maret yang menuntut pemerintah menghentikan perang.
Aksi tersebut bahkan diikuti oleh beberapa anggota parlemen Israel atau Knesset.
“Demonstrasi warga Israel mulai muncul. Mereka menilai perang ini lebih mencerminkan kepentingan politik pemerintahan Netanyahu yang berhaluan messianis daripada kebutuhan keamanan negara,” ujar Mahfuz.
Fenomena serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa dukungan publik terhadap kebijakan militer Donald Trump Presiden tidak terlalu besar.
Mahfuz mengutip hasil survei Ipsos Poll pada awal Maret yang menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika tidak mendukung perang tersebut.
“Hanya sekitar 27 persen warga Amerika yang menyetujui aksi perang tersebut, sementara sekitar 43 persen menolaknya secara tegas dan sisanya masih ragu,” jelasnya.
Selain itu, sejumlah pengamat militer dan intelijen Amerika juga mulai mempertanyakan klaim keberhasilan operasi militer yang disampaikan Gedung Putih.
Menurut Mahfuz, tokoh seperti Douglas McGregor dan Larry C. Johnson termasuk di antara mereka yang meragukan data kerugian militer yang dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat.
“Beberapa analis militer dan intelijen Amerika bahkan menyangsikan klaim keberhasilan operasi militer yang disampaikan Gedung Putih,” kata Mahfuz.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, negara-negara Teluk disebut mulai menunjukkan kecemasan yang semakin besar.
Mahfuz menyoroti pertemuan antara Sergei Lavrov Menteri Luar Negeri Rusia dengan para duta besar negara-negara Arab di Moskow pada 8 Maret.
Dalam pertemuan itu, sejumlah perwakilan negara Arab dilaporkan meminta Rusia menekan Iran agar menghentikan serangan militernya yang menyasar wilayah sekitar.
Namun, menurut Mahfuz, Rusia memberikan respons yang cukup diplomatis terhadap permintaan tersebut.
“Lavrov merespons secara logis bahwa tindakan militer Iran merupakan hak politiknya untuk membela diri dari agresi militer sepihak yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat,” ujarnya.
Mahfuz juga menilai bahwa Rusia secara implisit mempertanyakan sikap sebagian negara Arab yang tidak menyampaikan kecaman terhadap serangan awal yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat.
“Lavrov juga mempertanyakan mengapa tidak ada keprihatinan dari negara-negara Arab terhadap agresi militer sepihak Israel dan Amerika Serikat, termasuk terhadap kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara yang menargetkan kediamannya,” kata Mahfuz.
Menurut Mahfuz, kondisi tersebut menunjukkan kompleksitas politik di kawasan Timur Tengah yang selama ini dipengaruhi oleh berbagai kepentingan geopolitik.
Ia menilai Iran saat ini tengah menjalankan strategi yang tidak hanya berfokus pada pertahanan militer, tetapi juga pada upaya mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
“Iran tampaknya ingin memanfaatkan perang ini untuk mengubah hegemoni militer dan dominasi politik Amerika Serikat di kawasan,” katanya.
Selain itu, Iran juga dinilai berupaya mengubah persepsi negara-negara Timur Tengah mengenai posisi Israel.
Mahfuz menilai bahwa selama ini Israel sering dipandang sebagai mitra strategis oleh sebagian negara di kawasan, tetapi konflik terbaru ini bisa mengubah persepsi tersebut.
“Tujuan lainnya adalah mengubah persepsi bahwa Israel bukan sekadar sekutu strategis bagi sebagian negara kawasan, tetapi bisa menjadi ancaman bersama,” ujar Mahfuz.
Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia ini juga menyoroti serangan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Menurut Mahfuz, serangan tersebut secara tidak langsung menimbulkan keraguan terhadap kemampuan Amerika Serikat sebagai pelindung keamanan bagi sekutu-sekutunya.
“Serangan terhadap basis militer Amerika di kawasan Teluk membuka mata banyak pihak bahwa kekuatan militer AS tidak sekuat yang selama ini diyakini,” katanya.
Keraguan tersebut, lanjutnya, dapat memengaruhi persepsi negara-negara Teluk terhadap peran Amerika Serikat dalam sistem keamanan regional.
“Mulai muncul keraguan apakah Amerika Serikat masih mampu menjadi payung keamanan bagi negara-negara kawasan,” ujar Mahfuz.
Di sisi lain, ia menilai bahwa tindakan militer Israel yang terus melibatkan Amerika Serikat justru berpotensi menimbulkan dampak politik yang berlawanan dengan tujuan awalnya.
Alih-alih memperkuat posisi Israel di kawasan, langkah tersebut justru bisa memperkuat persepsi negatif terhadap negara itu.
“Tindakan militer sepihak Israel yang selalu didukung penuh oleh Amerika Serikat berpotensi membalikkan posisi Israel sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan,” kata Mahfuz.
Ia menilai bahwa jika konflik ini berlangsung lama, dampaknya bisa semakin besar bagi stabilitas politik, keamanan, dan ekonomi negara-negara Timur Tengah.
Menurut Mahfuz, negara-negara Teluk justru berpotensi menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari konflik berkepanjangan tersebut.
“Perang ini diyakini akan berlangsung cukup lama dan berpotensi menciptakan kekacauan kawasan. Iran mungkin mampu bertahan, tetapi korban terbesar justru negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat,” katanya.
Mahfuz menilai situasi tersebut dapat memicu perubahan besar dalam dinamika politik kawasan setelah konflik berakhir.
Ia bahkan memperkirakan kemungkinan munculnya persepsi baru di kawasan mengenai pihak yang dianggap sebagai ancaman utama.
“Jika konflik ini terus berkembang seperti sekarang, bukan tidak mungkin setelah perang berakhir akan muncul persepsi baru bahwa Israel menjadi musuh bersama di kawasan Teluk dan sekitarnya,” ujar Mahfuz.
Menurutnya, dinamika tersebut akan sangat menentukan arah politik dan keamanan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.
Mahfuz menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung tidak hanya berkaitan dengan pertarungan militer semata, tetapi juga menyangkut perubahan besar dalam struktur geopolitik regional.
“Perang ini bukan sekadar konflik militer, tetapi juga pertarungan geopolitik yang bisa mengubah peta kekuatan di Timur Tengah,” katanya.(faz/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
