Negara-negara Uni Eropa akan melabeli Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris.
Keputusan itu diumumkan para pejabat Uni Eropa pada, Kamis (29/1/2026) sore, menyusul tindakan keras aparat Iran yang brutal dan berdarah terhadap para demonstran dalam beberapa pekan terakhir.
Pengumuman awal mengenai kebijakan ini disampaikan oleh Kaja Kallas Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa melalui media sosial, dan akan diformalkan dalam beberapa hari ke depan.
“Represi tidak bisa dibiarkan tanpa respons. Mereka yang beroperasi melalui teror harus diperlakukan sebagai teroris,” tegas Kallas dalam konferensi pers usai pertemuan Kamis tersebut yang dilansir The New York Times.
Langkah tersebut membuat Uni Eropa sejalan dengan Amerika Serikat (AS) dan Kanada, yang lebih dulu menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris.
Saat ditanya apakah keputusan Uni Eropa ini berarti dukungan terhadap Donald Trump Presiden AS jika ia memerintahkan serangan baru terhadap Iran, Kallas menegaskan sikap berbeda. “Jika menyangkut serangan, saya pikir kawasan ini tidak membutuhkan perang baru,” ujarnya.
Pejabat Uni Eropa lainnya menegaskan bahwa langkah ini ditujukan untuk mengirimkan pesan kuat kepada pemerintah Iran.
“Keputusan ini juga merupakan sebuah seruan-seruan kepada otoritas Iran untuk membebaskan para tahanan yang jumlahnya puluhan ribu dan kini mendekam di penjara rezim,” ujar Jean-Noël Barrot Menteri Luar Negeri Prancis di sela pertemuan para menteri di Brussels.
Ia juga menyerukan agar Iran menghentikan eksekusi dan memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Sebelumnya, sejumlah negara anggota Uni Eropa seperti Prancis, Italia, dan Spanyol sempat khawatir bahwa pelabelan ini dapat memutus jalur diplomatik dengan Teheran. Namun, kalkulasi itu berubah setelah meningkatnya kekerasan terhadap para pengunjuk rasa.
Meski jumlah pasti korban tewas belum dapat dipastikan, sebagian besar lembaga pemantau independen sepakat bahwa korban jiwa akibat penindasan protes di Iran telah mencapai ribuan orang.
Selain penetapan IRGC sebagai organisasi teroris, Uni Eropa juga akan menjatuhkan sanksi berupa pembekuan aset dan larangan perjalanan terhadap 21 individu dan entitas Iran. Langkah ini dimaksudkan sebagai sinyal tegas penolakan Uni Eropa terhadap situasi yang terjadi di Iran.
Salah satu pejabat yang masuk dalam daftar sanksi adalah Eskandar Momeni Menteri Dalam Negeri Iran. Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi terhadap individu dan perusahaan yang terlibat dalam dukungan militer Iran kepada Rusia, termasuk produksi rudal balistik.
Menanggapi keputusan tersebut, Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menuduh Eropa “menyulut api” ketegangan melalui unggahan di media sosial. Ia menyebut penetapan IRGC sebagai organisasi teroris sebagai “kesalahan strategis besar lainnya”.
Araghchi juga memperingatkan bahwa jika ketegangan meningkat menjadi perang terbuka, harga energi akan melonjak dan masyarakat Eropa akan terdampak secara ekonomi. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
