Situasi di perbatasan Afghanistan dan Pakistan tengah mencapai titik didih. Otoritas Taliban Afghanistan secara resmi mengumumkan telah melancarkan operasi militer skala besar terhadap sejumlah posisi militer Pakistan, di sepanjang perbatasan Garis Durand, Kamis (26/2/2026) malam.
Melansir Al Jazeera, serangan ini disebut sebagai balasan langsung atas serangan udara Pakistan yang terjadi pada pekan sebelumnya, yang menurut Kabul telah memakan korban warga sipil.
Zabihullah Mujahid Juru bicara pemerintahan Taliban, menegaskan bahwa operasi ofensif ini merupakan respons atas provokasi dan pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh militer Pakistan secara berulang.
“Sebagai tanggapan atas provokasi berulang dan pelanggaran oleh militer Pakistan, operasi ofensif skala besar telah diluncurkan terhadap posisi dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand,” tulis Mujahid melalui akun resminya di platform X.
Laporan dari korps militer Afghanistan wilayah timur menyebutkan terjadi “pertempuran sengit” di Provinsi Nangarhar dan Paktia. Sumber militer Afghanistan mengeklaim sedikitnya 10 tentara Pakistan tewas dan 13 pos militer berhasil dikuasai dalam serangan kilat tersebut.
Di sisi lain, Islamabad membantah klaim kekalahan tersebut. Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyatakan bahwa pasukan mereka justru memberikan respons cepat dan mematikan di beberapa sektor, termasuk Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur.
Mosharraf Zaidi, juru bicara Shehbaz Sharif Perdana Menteri Pakistan, menegaskan bahwa tidak ada pos militer mereka yang jatuh ke tangan Taliban. Sebaliknya, Pakistan mengeklaim telah memberikan kerugian besar bagi pihak Afghanistan.
“Laporan awal mengonfirmasi korban besar di pihak Afghanistan. Sebanyak 133 anggota Taliban tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka. Selain itu, 27 pos mereka dihancurkan,” klaim Zaidi pada Jumat (27/2/2026) dini hari.
Ketegangan kedua negara bertetangga ini sebenarnya sudah memburuk sejak akhir 2025. Pakistan menuduh Taliban Afghanistan memberikan perlindungan bagi kelompok Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), kelompok bersenjata yang gencar melakukan serangan teror di wilayah Pakistan.
Pearl Pandya Analis senior Asia Selatan dari ACLED, menilai perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang sulit diawasi menjadi celah bagi militan untuk bersembunyi.
“Taliban Afghanistan dinilai enggan mengambil tindakan tegas terhadap TTP karena kedekatan historis. Namun, tanpa tindakan serius, eskalasi konflik di perbatasan tampaknya sulit dihindari,” ujar Pandya.
Adapun bentrokan ini telah menyebabkan jalur perlintasan darat utama ditutup total. Warga di ibu kota Kabul juga melaporkan adanya suara ledakan keras dan pergerakan pesawat militer di langit sejak Jumat pagi, yang menambah kecemasan akan terjadinya perang terbuka.
Hingga saat ini, kedua belah pihak masih saling klaim jumlah korban dan kemenangan di lapangan, sementara seruan internasional untuk menahan diri mulai bermunculan guna mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam di kawasan tersebut. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
