Migran Venezuela di berbagai belahan dunia turun ke jalan pada, Sabtu (3/1/2026), merayakan penangkapan Nicolas Maduro Presiden oleh militer Amerika Serikat (AS).
Melansir Reuters, Minggu (4/1/2026), migran Venezuela merayakan hal tersebut karena pemerintahan Maduro yang selama bertahun-tahun, disebut memicu salah satu eksodus migrasi terbesar di dunia dalam sejarah modern.
Teriakan merayakan penangkapan Maduro terdengar di jalan-jalan ibu kota negara-negara Amerika Latin hingga Spanyol. Warga Venezuela yang tinggal di luar negeri berkumpul untuk meluapkan kegembiraan sekaligus menaruh harapan dan tanda tanya tentang masa depan negara mereka.
“Kami bebas. Kami semua bahagia karena kediktatoran telah jatuh dan kami memiliki negara yang merdeka,” ujar Khaty Yanez, warga Venezuela di Santiago, Chile, yang telah tujuh tahun meninggalkan negaranya.
Kegembiraan serupa diungkapkan Jose Gregorio, sesama warga Venezuela. “Kebahagiaan saya terlalu besar. Setelah bertahun-tahun, setelah begitu banyak perjuangan dan kerja keras, hari ini adalah harinya. Hari ini adalah hari kebebasan,” katanya.
Menurut data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB, sejak 2014 atau saat Maduro pertama kali menjabat, ada sekitar 7,7 juta warga Venezuela atau sekitar 20 persen dari populasi telah meninggalkan negara itu.
Sebagian besar pergi karena kesulitan memenuhi kebutuhan pangan atau mencari peluang hidup yang lebih baik di luar negeri.
Kolombia menjadi negara tujuan terbesar diaspora Venezuela dengan sekitar 2,8 juta orang, disusul Peru dengan 1,7 juta migran, berdasarkan data platform R4V, jaringan lembaga swadaya masyarakat regional yang dibentuk oleh badan migrasi PBB.
Di ibu kota Peru, Lima, puluhan warga Venezuela berkumpul sambil menyelimuti diri dengan bendera nasional untuk menandai jatuhnya Maduro. Salah satunya, Milagros Ortega, yang mengatakan dirinya berharap bisa segera kembali ke Venezuela karena kedua orang tuanya masih tinggal di sana.
“Mengetahui ayah saya masih hidup untuk menyaksikan kejatuhan Nicolas Maduro sangat emosional. Saya ingin melihat wajahnya,” ujar Ortega.
Jose Jeri Presiden Peru melalui platform X menyatakan pemerintahannya akan memfasilitasi pemulangan warga Venezuela secara langsung, tanpa memandang status imigrasi mereka.
Kebahagiaan juga terasa di Ekuador. Dalam sebuah aksi kecil di Quito, Cynthia Diaz salah satu peserta aksi mengatakan, “Bagi kami yang hidup di pengasingan, ini adalah kebahagiaan yang luar biasa. Warga Venezuela, cepat atau lambat, akan kembali ke Venezuela, ke Venezuela yang merdeka, ke Venezuela yang merupakan tanah kebesaran.”
Di Spanyol, ribuan warga Venezuela memadati Puerta del Sol, pusat kota Madrid, dan bertepuk tangan saat menyaksikan konferensi pers Donald Trump Presiden AS secara langsung.
Perayaan serupa juga terjadi di pusat kota Buenos Aires, Argentina. Yeison Urdaneta warga Venezuela disana mengatakan penangkapan Maduro adalah hal yang selalu diharapkan.
“Kami telah menunggu Venezuela bebas agar bisa kembali pulang. Argentina telah menerima kami dengan baik. Saya sangat berterima kasih, tapi saya tetap orang Venezuela.”
Harapan dan Keraguan soal Masa Depan
Meski euforia merebak, kekhawatiran soal masa depan Venezuela juga mulai muncul di kalangan migran. Banyak warga Venezuela di luar negeri bertanya-tanya bagaimana arah negara mereka ke depan.
Andres Losada, yang telah tiga tahun tinggal di Spanyol dan merupakan satu dari sekitar 400 ribu warga Venezuela di negara itu, mengaku berada di antara rasa cemas dan bahagia.
“Meskipun apa yang dialami orang-orang di Caracas sangat berat, saya percaya bahwa di balik semua itu ada cahaya yang akan menuntun kami menuju kebebasan,” ujarnya.
Tidak semua migran merasa Venezuela sudah sepenuhnya bebas. Maria Fernanda Monsilva yang ikut aksi di Quito, berharap tokoh oposisi utama Venezuela pada Pilpres 2024, Edmundo Gonzalez, bisa memegang kekuasaan.
“Kami belum sampai pada titik di mana kami bisa mengatakan Venezuela benar-benar bebas. Banyak dari kami yang berada di luar negeri ingin pulang. Ini adalah langkah pertama dari rangkaian panjang,” kata Monsilva.
Sementara itu, Agustin Rodriguez, Wakil Presiden sebuah asosiasi budaya Venezuela di Spanyol, mengaku khawatir dengan gejolak yang terjadi, namun menilai kondisi tersebut “mungkin diperlukan untuk menemukan jalan keluar agar Venezuela bisa kembali pada sistem pergantian kekuasaan dan memiliki masa depan.”
Di sisi lain, Donald Trump Presiden AS pada Sabtu berjanji akan menempatkan Venezuela di bawah kendali AS untuk sementara waktu, termasuk dengan mengerahkan pasukan AS jika diperlukan.
“Kita bisa melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” ujarnya. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
