Rabu, 14 Oktober 2026

Mitigasi Radikalisme Digital, Psikolog Sarankan Pendekatan Dialogis untuk Bentengi Anak

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Ilustrasi anak bermain game online. Foto: Getty Images

Gim daring atau online game dapat menjadi pintu masuk radikalisasi digital terhadap anak dan remaja. Perekrut membangun kepercayaan melalui perhatian, pujian, dukungan emosional, hingga pemberian hadiah sebelum perlahan memanipulasi kedekatan dan menguji loyalitas anak.

Putri Langka, psikolog dan akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila mengatakan, anak dan remaja rentan menjadi sasaran karena sedang berada dalam fase pencarian identitas dan membutuhkan validasi sosial.

Pada tahap tersebut, pengakuan dari lingkaran pertemanan atau significant others kerap dianggap lebih penting dibandingkan arahan orang tua. Kondisi ini dapat diperparah oleh kesenjangan generasi yang memicu miskomunikasi dalam keluarga.

“Karena sekarang akses internet sangat mudah, dunia daring menjadi tempat pelarian. Namun, dengan kondisi psikologis remaja yang kritis tapi pertimbangannya belum utuh, rekrutmen terhadap mereka menjadi sangat mudah,” ujar Putri di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Putri Langka psikolog dan akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.

Menurut Putri, gim daring bukan sekadar sarana hiburan bagi anak dan remaja. Ruang virtual juga menjadi tempat mereka membangun pertemanan, mencari pengakuan, belajar, dan mengembangkan hubungan sosial.

Namun, minimnya pengawasan dan literasi digital dapat membuka celah bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan eksploitasi. Kelompok radikal dan jaringan ekstremis dapat memanfaatkan fitur obrolan dalam gim maupun grup media sosial tertutup untuk mendekati calon sasaran.

Perekrutan Berlangsung Bertahap

Putri menjelaskan, proses radikalisasi digital berlangsung secara halus dan bertahap. Perekrut terlebih dahulu membangun kepercayaan (trust building) melalui interaksi konsisten dan perhatian yang mungkin tidak diperoleh anak di lingkungan nyata.

Setelah kedekatan terbentuk, perekrut mulai memanipulasi hubungan emosional dengan memberikan dukungan, pujian atau reinforcement, hingga hadiah. Cara tersebut dapat membuat anak merasa senang dan berutang budi kepada orang yang memberinya perhatian.

“Hal ini menciptakan rasa senang dan berterima kasih dari anak, yang justru berbahaya ketika anak mulai merasa berutang kebaikan,” kata pemilik nama asli Maharani Ardi Putri ini.

Putri mengibaratkan mekanisme tersebut dengan perekrutan anggota geng motor. Calon anggota diberi identitas baru, pujian, dan ruang aman semu agar merasa diterima serta bisa menjadi diri sendiri.

Pola serupa dapat berlangsung di ruang digital. Setelah kepercayaan tertanam, perekrut mulai memberikan permintaan atau tantangan kecil yang meningkat secara bertahap untuk menguji kepatuhan dan loyalitas anak.

Orang Tua Perlu Mengenali Perubahan Perilaku

Untuk mencegah radikalisasi digital, Putri menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengenali perubahan perilaku anak. Anak yang sebelumnya terbuka, misalnya, tiba-tiba menjadi tertutup, defensif, atau menghindari percakapan.

Orang tua juga perlu mengetahui gim yang dimainkan anak serta orang-orang yang berinteraksi dengan mereka melalui fitur obrolan. Sikap mengelak ketika ditanya atau kebiasaan bermain secara diam-diam di luar waktu yang disepakati dapat menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Cara mengujinya bisa dengan mengambil akses mereka; jika anak menjadi sangat gelisah, marah, hingga tantrum berlebihan hanya karena tidak bermain satu hari, itu adalah tanda peringatan yang jelas,” tegas Putri.

Meski demikian, Putri mengingatkan orang tua agar memahami tahap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial remaja sebelum mengambil tindakan. Penolakan anak tidak selalu berarti serangan personal terhadap keluarga, tetapi dapat berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi dan rasionalitas yang masih berkembang.

Karena itu, orang tua perlu menghindari respons yang terlalu reaktif dan berupaya membangun pendekatan komunikasi yang sesuai dengan kondisi anak.

Putri juga menekankan pentingnya memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Orang tua sebaiknya tidak mengajak anak berdiskusi ketika mereka sedang fokus bermain gim atau berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

“Pilihlah waktu santai, misalnya saat makan malam atau dalam perjalanan. Dalam obrolan santai seperti itu, kita bisa menyelipkan isu grooming atau keamanan digital sebagai bahan diskusi dua arah, bukan sebagai interogasi atau tuduhan,” tandas Putri. (ham/rid)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Rabu, 14 Oktober 2026
30o
Kurs