Prof Wimpie Pangkahila Pakar Andrologi, Seksologi, dan Anti Aging dari Universitas Udayana menekankan pentingnya orang tua dalam memberikan pendidikan seksual sejak dini, sebagai upaya mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Menurut dia, pendidikan seksual dalam keluarga memegang peranan penting terutama di tengah maraknya informasi keliru dan menyesatkan di media sosial.
“Karena itu orang tua jangan meninggalkan anaknya, apalagi tiap hari anaknya nonton media sosial. Jadi pendidikan seks dalam keluarga sangat perlu, berikan penjelasan kepada anaknya,” kata Prof. Wimpie dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (15/1/2026) yang dikutip Antara.
Menurutnya, orang tua perlu memberikan pendidikan seksual kepada anak sesuai usianya. Wimpie mencontohkan sesekali saat orang tua memandikan anak misalnya, pada anak laki-laki harus diperhatikan perkembangan organ kelamin apakah tumbuh dengan normal atau tidak.
Sementara pada anak perempuan, pertanyaan seputar menstruasi atau perubahan fisik seperti jerawat juga merupakan bentuk pendidikan seksual yang tidak langsung.
“Di situ dari pengalaman saya banyak sekali orang tua memperhatikan itu, ‘Kok anak saya ini enggak tumbuh-tumbuh misalnya penisnya, kok kecil dibandingkan teman-teman seumurnya?’. Itu salah satu cara yang sederhana sebetulnya yang bisa dilakukan orang tua,” tutur dia.
Prof Wimpie menyampaikan orientasi seksual dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik bawaan sejak lahir maupun lingkungan pergaulan. Kondisi yang bersifat bawaan tidak dapat diubah. Tapi, perilaku yang terbentuk dari lingkungan bisa muncul akibat interaksi tertentu.
“Kalau bicara gay gitu misalnya itu bisa memang bawaan dari lahir. Tapi dari pergaulan sekarang kelihatannya banyak itu, karena satu kos misalnya akhirnya melakukan hubungan homoseksual, tapi gaya sehari-harinya biasa saja enggak tampak, kalau itu ya karena lingkungan,” tutur dia.
Lebih lanjut, Prof. Wimpie juga mengatakan lingkungan keluarga yang harmonis berperan penting dalam mendukung perkembangan anak, terutama secara psikologis.
Selain itu, kondisi rumah tangga yang tidak harmonis dan membuat anak memiliki pengalaman masa kecil yang diwarnai konflik atau kekerasan dalam keluarga, menurutnya berpotensi menyebabkan tekanan psikologis yang memicu penyimpangan seksual anak di masa depan.
“Mungkin waktu kecil si anak itu melihat bapaknya melakukan kekerasan terhadap ibunya sehingga dia merasa ‘aku harus membela ibu, aku sama dengan ibu’. Karena itu dalam mendidik anak, keharmonisan keluarga harus diperhatikan,” ujar Wimpie.
“Kalau mau bertengkar jangan di depan anak, bisa masuk ke kamar kunci baru berantem di kamar supaya anaknya enggak nonton. Yang penting itu menjaga anak dalam masa pertumbuhannya supaya betul-betul normal,” tambahnya. (ant/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
