Paus Leo pada Minggu (29/3/2026) mengatakan bahwa Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki “tangan yang penuh darah”, dalam pernyataan yang luar biasa keras ketika perang Iran memasuki bulan keduanya.
Berbicara di hadapan puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Palma — perayaan yang membuka Pekan Suci menjelang Paskah bagi 1,4 miliar umat Katolik di dunia — Paus menyebut konflik itu sebagai sesuatu yang “mengerikan” dan menegaskan bahwa Yesus tidak bisa dijadikan pembenaran untuk perang apa pun.
“Inilah Allah kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, dan yang tidak dapat digunakan oleh siapa pun untuk membenarkan perang,” kata Leo, paus pertama asal Amerika Serikat, kepada umat yang berkumpul di bawah cuaca cerah, seperti dilaporkan Reuters, Senin (30/3/2026).
“(Yesus) tidak mendengarkan doa mereka yang mengobarkan perang, tetapi menolaknya, dengan berkata: ‘Sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan; tanganmu penuh darah,’” ujarnya, mengutip sebuah ayat Alkitab.
Leo tidak secara khusus menyebut nama pemimpin dunia mana pun, tetapi dalam beberapa pekan terakhir ia memang semakin keras mengkritik perang Iran.
Dalam seruan pada akhir perayaan Minggu itu, Paus menyesalkan bahwa umat Kristen di Timur Tengah “menderita akibat dari konflik yang mengerikan” dan mungkin tidak dapat merayakan Paskah.
Paus, yang dikenal sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata, berulang kali menyerukan gencatan senjata segera dalam konflik tersebut. Pada Senin, ia juga mengatakan bahwa serangan udara militer bersifat membabi buta dan harus dilarang.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat menggunakan bahasa keagamaan Kristen untuk membenarkan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu meluasnya perang.
Pete Hegseth Menteri Pertahanan Amerika Serikat, yang mulai memimpin kebaktian doa Kristen di Pentagon, pada sebuah ibadah Rabu lalu mendoakan agar ada “tindakan kekerasan yang sangat besar terhadap mereka yang tidak pantas mendapatkan belas kasihan.”
Dalam homilinya pada Minggu, Leo merujuk pada ayat Alkitab ketika Yesus, yang akan ditangkap menjelang penyaliban-Nya, menegur salah satu pengikut-Nya karena memukul orang yang menangkap-Nya dengan pedang.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang,” kata Leo. “Ia memperlihatkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri-Nya sendiri, Ia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib.”(iss)
NOW ON AIR SSFM 100
