Senin, 23 Februari 2026

Penipuan Digital Naik 34,7 Persen saat Ramadan, WhatsApp Jadi Kanal Paling Rentan

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi Online Scamming. Foto Pew Research Center

Aktivitas digital masyarakat mengalami lonjakan selama bulan Ramadan, seiring dengan semakin intensifnya komunikasi, transaksi, hingga kebutuhan berbagi.

Namun di balik meningkatnya konektivitas tersebut, ancaman penipuan digital ikut naik signifikan. Data laporan State of Scams in Indonesia 2025 Report, yang disusun oleh Global Anti-Scam Alliance, Mastercard, dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menunjukkan bahwa kasus penipuan digital selama Ramadan meningkat hingga 34,7 persen.

Dari data tersebut, sebanyak 89 persen modus penipuan terjadi melalui WhatsApp, sementara 64 persen lainnya lewat panggilan telepon. Situasi itu menempatkan komunikasi digital sebagai titik paling rentan bagi masyarakat selama bulan puasa.

Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat Pulau Jawa sebagai wilayah dengan konsentrasi laporan penipuan tertinggi. Jatim menempati posisi tiga besar nasional dengan 60.533 laporan, menunjukkan tingginya paparan risiko di provinsi dengan mobilitas dan aktivitas ekonomi yang padat, terutama selama Ramadan.

Temuan tersebut sejalan dengan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukkan bahwa fitur perlindungan dari penipuan online kini menjadi aspek keamanan paling dianggap penting oleh masyarakat lintas generasi. Selain itu, peningkatan literasi digital juga tercatat masih perlu dorongan agar mampu menekan laju kejahatan siber, khususnya pada momen musiman dengan trafik komunikasi tinggi.

Merespons kondisi itu, IOH melalui IM3 memperluas fitur perlindungan digital dengan memberikan deteksi penipuan secara real-time, termasuk pada panggilan WhatsApp. Langkah itu menandai masuknya lapisan pengamanan baru pada kanal komunikasi yang selama ini paling sering dimanfaatkan pelaku penipuan.

Fahd Yudhanegoro EVP Head of Circle Java IOH mengatakan bahwa aktivasi fitur perlindungan penipuan digital di Surabaya dan Jatim terus mengalami pertumbuhan sejak diperkenalkan pada Agustus 2025. Menurutnya, meningkatnya adopsi menunjukkan bahwa keamanan digital kini dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan lagi fitur tambahan, terutama di periode rawan seperti Ramadan.

“Di periode seperti Ramadan, ketika komunikasi dan transaksi meningkat, aktivitas harus lebih tenang, tanpa khawatir hasil kerja kerasnya terancam penipuan,” katanya di Surabaya, pada Senin (23/2/2026).

Ia mengatakan, di tengah meningkatnya intensitas komunikasi dan transaksi selama Ramadan, fakta lonjakan penipuan digital menjadi pengingat bahwa koneksi cepat tanpa perlindungan yang memadai justru membuka celah risiko baru.

“Ramadan bukan hanya periode peningkatan aktivitas digital, tetapi juga ujian bagi kesiapan sistem keamanan dalam melindungi hasil kerja keras masyarakat,” tuturnya. (ris)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 23 Februari 2026
25o
Kurs