Selasa, 10 Februari 2026

Perpusnas Akan Gunakan AI untuk Pelestarian Bahasa Daerah

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Pengunjung sedang membaca, bekerja, dan belajar di lantai 22 Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta Pusat. Foto: Antara.

E. Aminudin Aziz Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) mengungkap sejumlah stategi literasi di era perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Yaitu memanfaatkan AI untuk melestarikan bahasa daerah.

Katanya ada lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, namun beberapa bahasa terancam punah. Sejak 2021, Perpusnas mengembangkan pemanfaatan teknologi untuk mendokumentasikan bahasa daerah.

“Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi,” ujar Aminudin seperti dilansir Antara, Selasa (10/2/2026).

Aminudin mengatakan perkembangan AI bisa membentuk pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif. Di mana teknologi tidak bisa dihindari, tapi bisa memperkuat fondasi literasi masyarakat.

“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab,” katanya.

Selain memanfaatkan teknologi untuk melestarikan bahasa, Aminudin menegaskan langkahnya meningkatkan literasi tidak sepenuhnya bergantung pada AI. Perpusnas juga menyediakan buku cetak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” ujarnya.

UNESCO memasukkan Indonesia ke peringkat dua terbawah soal literasi dunia. Di mana minat bacanya sangat rendah, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Sedangkan riset World’s Most Literate Nations Ranked dari Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, menyatakan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Kata Aminudin, rendahnya literasi tidak hanya disebabkan minimnya minat baca. Melainkan adanya keterbatasan bahan bacaan yang sesuai minat pembaca.

Saat ini Perpusnas menyediakan 9,7 juta eksemplar koleksi, mencakup buku, majalah, peta, monograf, audiovisual, buku digital, serta koleksi deposit nasional sebagai rekaman pengetahuan bangsa. (ant/lea/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 10 Februari 2026
30o
Kurs