Pertemuan antara Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dan Sanae Takaichi Perdana Menteri (PM) Jepang di Gedung Putih mendadak jadi canggung setelah Trump melontarkan candaan terkait serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 silam.
Momen tersebut terjadi saat konferensi pers sebelum pertemuan, Kamis (20/3/2026) waktu setempat. Saat itu, Trump ditanya perwakilan Jepang alasan kenapa AS tidak memberi tahu sekutu, termasuk Jepang sendiri, sebelum melancarkan serangan ke Iran.
Trump kemudian membandingkan situasi itu dengan serangan udara Jepang pada 1941. “Kami tidak memberi tahu siapa pun karena kami menginginkan kejutan. Siapa yang lebih paham soal kejutan selain Jepang?” ujar Trump seperti dikutip ABC News.
“Kenapa Anda tidak memberi tahu saya soal Pearl Harbor, ya?” tanya Trump lagi kepada perwakilan Jepang itu.
Pernyataan itu langsung mengubah suasana. Senyum Takaichi yang duduk tepat disebelah Trump seolah memudar, matanya membesar, dan ia tampak bergeser di kursinya, menandakan ketidaknyamanan.
Untuk diketahui, serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 silam membuat 2.390 warga Amerika meninggal. Hal itu yang kemudian mendorong AS masuk ke dalam Perang Dunia II sehari setelahnya.
Franklin D. Roosevelt Presiden AS saat itu, menyebut peristiwa tersebut sebagai “tanggal yang akan hidup dalam kenistaan”. AS kemudian mengalahkan Jepang pada Agustus 1945, beberapa hari setelah menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu warga sipil.
Adapun ini bukan pertama kalinya Trump melontarkan candaan sensitif terkait sejarah Perang Dunia II dalam forum resmi. Pada pertemuan dengan Friedrich Merz Kanselir Jerman, ia sempat menyebut pendaratan Sekutu di Normandia atau D-Day sebagai “hari yang tidak menyenangkan bagi Anda”.
Merz saat itu merespons, “Dalam jangka panjang, ini adalah pembebasan negara saya dari kediktatoran Nazi.”
Bahas Selat Hormuz dan Peran Jepang
Pertemuan Trump dan Takaichi juga membahas situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.
Trump sebelumnya mengkritik sekutu AS, termasuk Jepang, karena dinilai belum maksimal membantu menjaga keamanan jalur tersebut. Meski sempat mengatakan bantuan tidak diperlukan, ia kembali memberi sinyal harapan agar Jepang meningkatkan peran.
“Saya berharap Jepang meningkatkan kontribusinya, karena kita memiliki hubungan seperti itu,” kata Trump.
Ia juga menyoroti ketergantungan Jepang terhadap pasokan energi yang melewati Selat Hormuz sebagai alasan utama untuk ikut terlibat.
Sementara itu, Takaichi mengakui sebelum keberangkatan bahwa pertemuannya dengan Trump akan berlangsung sulit. Hal ini terkait keterbatasan Jepang dalam keterlibatan militer di luar negeri, yang diatur dalam konstitusi pasca-Perang Dunia II.
Usai pertemuan, Takaichi menyatakan kedua negara sepakat bahwa keamanan Selat Hormuz sangat penting. Namun, ia juga telah menjelaskan secara rinci batasan langkah yang dapat diambil Jepang sesuai hukum domestik.
Selain isu keamanan, kedua negara juga mengumumkan kerja sama investasi besar, termasuk proyek pembangunan reaktor nuklir senilai 40 miliar dolar AS di Tennessee dan Alabama, serta investasi 33 miliar dolar AS untuk fasilitas pembangkit listrik berbasis gas di Pennsylvania dan Texas. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
