Enam awak pesawat pengisian bahan bakar militer (BBM) Amerika Serikat (AS) meninggal setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh di wilayah barat Irak. Hal itu dikonfirmasi Komando Pusat AS (Centcom).
Pesawat jenis Boeing KC-135 Stratotanker tersebut sebelumnya dilaporkan jatuh pada, Kamis (14/3/2026), sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Militer AS sempat menyatakan telah menemukan empat korban, sebelum akhirnya memastikan seluruh awak pesawat meninggal dunia.
Namun, Centcom membantah kalau insiden tersebut disebabkan oleh tembakan musuh. Dan Caine Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS mengatakan pesawat tersebut jatuh saat awaknya sedang menjalankan misi tempur.
“Pesawat itu jatuh ketika awak sedang menjalankan misi tempur,” ujar Caine dalam konferensi pers pada, Jumat (13/3/2026), yang dikutip BBC.
Pesawat tanker itu diketahui terlibat dalam operasi militer AS yang sedang berlangsung terkait konflik dengan Iran. Saat kejadian, terdapat dua pesawat yang terlibat dalam misi tersebut. Satu pesawat jatuh di Irak barat, sementara pesawat lainnya berhasil mendarat dengan selamat.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa saat ini penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan. Operasi pencarian dan penyelamatan juga sempat dilakukan untuk menemukan dua awak pesawat yang sebelumnya belum diketahui keberadaannya.
Identitas para korban juga belum diumumkan secara resmi karena pihak militer memberikan waktu sekitar 24 jam agar keluarga korban dapat diberi pemberitahuan terlebih dahulu.
Sementara itu, Pete Hegseth Menteri Pertahanan AS menyebut para awak pesawat tersebut sebagai pahlawan yang gugur dalam tugas. Ia menegaskan pengorbanan para prajurit tersebut akan semakin memperkuat tekad militer AS dalam menjalankan misinya.
KC-135 sendiri merupakan pesawat tanker yang mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat tempur lainnya. Pesawat ini menjadi salah satu tulang punggung operasi udara militer AS sejak era Gulf War pertama, karena memungkinkan jet tempur dan pesawat pengebom menjalankan misi lebih jauh tanpa harus mendarat untuk mengisi bahan bakar.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Militer Israel pada Jumat mengumumkan telah melancarkan gelombang serangan besar yang menargetkan infrastruktur militer Iran di Tehran. Beberapa ledakan juga dilaporkan terjadi di sekitar ibu kota Iran tersebut.
Konflik yang telah berlangsung sekitar dua pekan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memicu dampak ekonomi global. Harga minyak dunia bahkan kembali menembus angka 100 dolar AS per barel, sementara pasar saham mengalami tekanan.
Situasi memanas setelah beberapa kapal kargo diserang di kawasan Teluk serta ancaman Iran untuk terus memblokir Strait of Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.
Sebelumnya, Donald Trump Presiden AS menyatakan perang tersebut berpotensi berakhir “dalam waktu sangat dekat”, meski ia juga memberi sinyal bahwa AS masih dapat mengambil langkah lebih jauh jika diperlukan. (bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
