Sabtu, 14 Maret 2026

Prabowo Dorong Penghematan BBM, Pertimbangkan WFH untuk Antisipasi Dampak Krisis Global

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026). Foto: Antara

Prabowo Subianto Presiden RI mendorong langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dengan mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH), sebagai langkah antisipasi dampak krisis global.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

“Tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita,” kata Prabowo seperti dikutip Antara.

Presiden menjelaskan perkembangan situasi global, khususnya di kawasan Eropa dan Timur Tengah, berpotensi memengaruhi harga energi dunia. Jika harga energi meningkat, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada harga pangan di dalam negeri.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah-langkah antisipatif sejak dini. Menurut Prabowo, Indonesia sebenarnya telah mengamankan sejumlah kebutuhan pangan mendasar. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki rencana percepatan di sektor energi.

Meski demikian, ia menegaskan penghematan konsumsi BBM tetap perlu dilakukan untuk menghadapi ketidakpastian global.

Sebagai perbandingan, Prabowo mencontohkan kebijakan penghematan yang diterapkan sejumlah negara, salah satunya Pakistan. Negara tersebut mengambil langkah penghematan yang cukup drastis, seperti penerapan kerja dari rumah bagi pegawai pemerintah dan swasta hingga 50 persen serta pengurangan hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga melakukan penghematan dengan mengurangi gaji anggota kabinet dan parlemen, memangkas penggunaan BBM kendaraan pemerintah, membatasi penggunaan kendaraan dinas, serta menghentikan sejumlah belanja negara seperti pengadaan kendaraan, pendingin ruangan, dan perabot kantor.

Langkah penghematan lainnya termasuk penghentian kunjungan luar negeri yang dibiayai pemerintah serta pembatasan anggaran untuk kegiatan seremonial. Prabowo menilai berbagai kebijakan tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah Indonesia menentukan langkah penghematan yang diperlukan.

“Ini hanya contoh ya, ini contoh. Maksud saya ini ada berapa hari saya kira kita bisa mengkaji masalah ini ya kan. Saya kira kita juga harus mengupayakan bahwa kita melakukan penghematan. Saya percaya dua tiga tahun kita akan sangat kuat, tapi tetap kita harus hemat konsumsi,” kata Presiden.

Presiden juga menilai pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa penerapan kerja dari rumah dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi konsumsi BBM.

“Ini saya minta dibicarakan nanti ya mungkin oleh Menko-Menko nanti berapa hari ini kita lihat. Kita pikirkan. Dulu kita atasi Covid, berhasil kita. Dan kita mampu, banyak bekerja dari rumah, efisiensi, berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ujar Prabowo.

“Umpamanya berapa ASN dan pejabat tidak usah ke kantor, mengurangi macet dan melaksanakan penghematan besar-besaran. Mengurangi hari kerja pun harus kita pertimbangkan dan langkah-langkah penghematan lainnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Presiden mengatakan penghematan konsumsi energi diharapkan dapat membantu menjaga kondisi fiskal negara agar defisit anggaran tidak meningkat. Pemerintah, kata dia, menargetkan pengelolaan APBN yang lebih seimbang.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyinggung masih adanya potensi kebocoran dan ketidakefisienan dalam pengelolaan anggaran negara, termasuk dalam praktik administrasi.

Prabowo menyebut upaya sinkronisasi sistem pemerintahan melalui pengembangan GovTech yang dikoordinasikan oleh Dewan Ekonomi Nasional diperkirakan mampu mengurangi kebocoran anggaran hingga sekitar 40 persen dari total pengeluaran negara.

“Kita sudah lakukan langkah-langkah tadi oleh Ketua DEN masalah GovTech, sinkronisasi semua K/L menjadi satu jaringan GovTech. Ini diperkirakan bisa kurangi kebocoran sampai dengan 40 persen dari pengeluaran kita,” ucapnya.

Di akhir arahannya, Presiden kembali mengingatkan seluruh jajaran pemerintah agar tetap waspada menghadapi ketidakpastian global, termasuk potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

“Kita walaupun merasa aman, tidak panik tapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek. Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang,” pungkas Prabowo. (ant/bil/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Sabtu, 14 Maret 2026
32o
Kurs