Jumat, 2 Oktober 2026

Protes Pelajar Menuntut Pendidikan Lebih Baik di Prancis Meluas Jadi Aksi Kekerasan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Aksi protes pelajar di Prancis yang meluas ke kekerasan. Foto: France24

Gerakan protes pelajar di Prancis yang menuntut kondisi pendidikan lebih baik semakin meluas pada Kamis (1/10/2026). Aksi yang awalnya digelar siswa sekolah menengah atas pada pekan lalu itu, kini turut diikuti mahasiswa, dan diwarnai sejumlah insiden kekerasan di beberapa kota.

Melansir laporan Euronews, Jumat (2/10/2026) WIB, para pelajar memprotes ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, serta kondisi fasilitas sekolah yang memburuk.

Di sejumlah kota, siswa membakar tempat sampah dan membuat blokade di depan sekolah. Berdasarkan laporan otoritas pendidikan daerah, prefektur, dan perwakilan serikat, beberapa kepala sekolah juga dilaporkan mengalami luka, pelecehan, atau serangan di lingkungan sekolah.

Polisi telah menahan ratusan pelajar di tingkat lycée, yakni jenjang pendidikan menengah atas di Prancis untuk siswa berusia sekitar 15 sampai 18 tahun. Sejumlah laporan juga menyebut ada pelajar yang mengalami luka.

Gerakan protes ini kemudian meluas ke perguruan tinggi. Mahasiswa memblokade akses ke sekitar 30 kampus di berbagai wilayah Prancis.

Seorang sumber keamanan menyebut ada sekitar 900 blokade atau insiden terkait protes di seluruh Prancis pada Kamis. Lebih dari 160 sekolah ditutup di Paris, Marseille, dan sejumlah kota lain. Aksi serupa juga menyebar ke Belgia. Kepolisian setempat menyebut protes dan perusakan terjadi di beberapa sekolah di Kota Liege.

Sementara di sebuah SMA Paris, para siswa memblokade salah satu pintu masuk sekolah. Seorang pelajar berusia 18 tahun mengatakan, para demonstran ingin menyuarakan persoalan jadwal belajar yang terlalu padat, sistem pendidikan, guru, pihak yang tidak mendengarkan aspirasi siswa, hingga proses pendaftaran universitas.

Siswa SMA di Prancis umumnya mulai belajar pukul 08.00 dan berada di sekolah hingga sore hari. “Orang-orang yang lebih tua bilang, ‘Anak-anak, pergilah ke sekolah dari jam 8 pagi sampai 6 sore setiap hari.’ Tapi kalian tidak tahu dampaknya secara mental,” kata seorang pelajar SMA di Paris.

Di Lille, aksi protes berlangsung tegang. Tempat sampah dijatuhkan ke jalan, proyektil dilemparkan, dan fasilitas umum dirusak. Polisi kemudian turun tangan membubarkan demonstran dengan menyerbu massa dan menembakkan gas air mata.

Bentrokan juga terjadi di Paris dan sejumlah komune di wilayah Île-de-France. Sejak awal pekan, gerakan ini telah menyebabkan ratusan orang ditangkap, sebagian besar masih di bawah umur. Tiga penyelidikan juga dibuka oleh IGPN, lembaga pengawas kepolisian Prancis, setelah adanya laporan pelajar terluka saat aksi blokade.

Di Tours, seorang pelajar yang mengalami luka di kepala pada Rabu (30/9/2026), dibawa ke rumah sakit. Menurut jaksa setempat, luka itu sesuai dengan dampak peluru karet non-mematikan.(bil/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Jumat, 2 Oktober 2026
30o
Kurs