Senin, 12 Januari 2026

Relokasi RPH Pegirian ke TOW Terjadwal Sesudah Idulfitri, Pemkot Selalu Buka Ruang Dialog

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Para jagal sapi dan pedagang daging melakukan demonstrasi di depan gedung DPRD Kota Surabaya, pada Senin (12/1/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

M. Fikser Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Surabaya mengatakan, relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke Tambak Oso Wilangon (TOW) sudah direncanakan dalam pembangunan dan penataan kota sejak tahun 2016 yang lalu.

“Yang mana pemerintah kota saat ini juga lagi melakukan penataan untuk kawasan religi. Ya, dulunya memang Pengirian itu pinggiran, tapi hari ini kan sudah dalam tengah kota ya kebutuhan. Kami juga sudah jelaskan secara gamblang tentang pelaksanaannya (relokasi) itu direncanakan setelah lebaran Idulfitri ya,” katanya di Balai Kota Surabaya, Senin (12/1/2026).

Fikser melanjutkan, dirinya sudah menjelaskan hal tersebut ketika menerima perwakilan jagal dan pedagang daging yang melakukan demonstrasi penolakan relokasi RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangon.

Meski mendapat penolakan, dia menyatakan Pemkot Surabaya akan terus melakukan pendekatan dan dialog dengan para jagal.

M. Fikser Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Surabaya memberikan keterangan kepada awak media di Balai Kota Surabaya, pada Senin (12/1/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

“Dalam diskusi ketika mereka menolak, kami sangat menghormati, menghargai, tapi kami pemerintah akan terus melakukan pendekatan, diskusi dengan para jagal untuk mereka bisa kemudian memahami ini,” ujarnya.

Mengenai kekhawatiran yang disampaikan jagal, seperti jarak lokasi baru dan kesiapan fasilitas, Pemkot menyatakan sudah menyiapkan solusi, salah satunya dengan menyiapkan kendaraan pengangkut daging dari RPH baru menuju Pasar Arimbi.

Pemkot juga menegaskan, relokasi hanya berlaku untuk RPH atau tempat pemotongan hewan, sementara pasar daging Pegirian di Jalan Arimbi tetap beroperasi seperti biasa.

“Yang pindah itu kan cuma RPH, rumah pemotongan hewannya. Tapi Pasar Arimbi, pasar daging itu tetap di sana,” tegasnya.

Selain itu, jam operasional pemotongan hewan yang biasanya dimulai sekitar pukul 00.00 WIB akan dimajukan menjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Langkah itu diharapkan mempercepat proses pemotongan. Sehingga, distribusi daging ke Pasar Arimbi tetap tepat waktu.

“Simulasi itu sudah dilakukan oleh RPH,” ujarnya.

M. Fikser Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Surabaya saat berdiskusi dengan jagal di Balai Kota Surabaya, pada Senin (12/1/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Lebih lanjut, Pemkot Surabaya juga membahas peralatan kerja para jagal, termasuk senjata tajam yang digunakan untuk memotong hewan. Nantinya akan dibuat sistem pendataan kolektif berupa surat atau tanda pengenal alat kerja. Selain itu, disiapkan pula loker penyimpanan alat kerja di lokasi RPH baru.

“Soal teknis alat kerja juga sudah dibahas, termasuk penyediaan loker penyimpanan di RPH,” ungkapnya.

Menanggapi klaim para jagal yang menyebut tidak pernah ada sosialisasi, Pemkot membantah hal tersebut. Menurut Pemkot, proses relokasi sudah dibahas sejak 2016 dan saat ini terus dilanjutkan dengan pendekatan dan sosialisasi langsung kepada para jagal.

“Proses ini kan sebenarnya sejak tahun 2016. Ya, perjalanan itu sudah ada. Hari ini juga mulai menuju ke sana, bagian dari sosialisasi pendekatan-pendekatan ya. Sampai nanti kami terus melakukan sosialisasi melakukan pendekatan kepada para jagal,” ucapnya.

Fajar Isnugroho Dirut RPH Surabaya menambahkan, RPH memberi kesempatan kepada mitra jagal Pegirian untuk memaksimalkan pemotongan hewan sampai akhir Idulfitri, karena setelah itu akan pindah ke Tambak Oso Wilangun.

“Setelah itu, semua jagal akan berpindah ke Tambak Oso Wilangun. Nah, selama Januari, Februari, Maret, RPH memanfaatkan dua tempat pemotongan sekaligus. Paralel kami jalankan, TOW jalan, Pegirian jalan. Gunanya apa? Kami akan cek yang sudah dibangun itu apakah sudah sesuai apa tidak? Ketika ada perbaikan, ada kekurangan apa, kan kita perlu pemotongan itu, mengurus sertifikat halal dan sebagainya. Sehingga ketika nanti habis lebaran itu secara teknis operasional pemotongan di TOW bisa dimaksimalkan dengan baik,” jelasnya.

Pihaknya menjamin, TOW secara fungsi sudah siap dan bisa menampung dengan kapasitas yang sama dengan Pergirian, yakni 150 ekor sapi brahma cross hingga 80 ekor sapi lokal.

“Persis sama di Pegirian, tidak ada yang berubah. Bahkan tempatnya lebih representatif karena dibangun lebih modern dan Ipalnya lebih maksimal. Karena Pegirian itu RPH yang sudah sangat tua. Nah, maka banyak alat yang kurang maksimal yang memang perlu penataan,” pungkasnya.(ris/kir/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 12 Januari 2026
26o
Kurs