Lebih dari 3.000 kapal dilaporkan menunggu di pelabuhan Teluk Persia untuk mendapatkan giliran berlayar melalui Selat Hormuz. Demikian laporan The Wall Street Journal yang mengutip data dari Clarksons Research.
Sekitar empat persen dari total tonase kapal global dikabarkan menganggur di wilayah ini akibat meningkatnya ketegangan militer, yang berdampak pada kelancaran arus perdagangan internasional.
Akibat kemacetan tersebut, tarif sewa kapal tanker melonjak hingga 360.000 dolar AS per hari, mencerminkan tekanan pasar yang sangat tinggi.
Sumber masalah ini berasal dari serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran, yang membuat sejumlah perusahaan pelayaran besar menangguhkan transit melalui jalur strategis ini.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia, memegang peran vital dalam perdagangan energi dunia.
Jalur ini mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari, setara dengan 20 persen konsumsi minyak global. Serta menyumbang sekitar 11 persen dari total perdagangan internasional.
Di Jepang, laporan Nikkei Asia menyebutkan bahwa tiga perusahaan pelayaran utama, yakni Mitsui OSK Lines, Nippon Yusen, dan Kawasaki Kisen, memutuskan menangguhkan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz karena alasan keselamatan. (saf/ipg)









