Kamis, 5 Februari 2026

Rusia Umumkan Tak Lagi Terikat Perjanjian Pembatasan Senjata dengan AS

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi - Tentara Rusia. Foto: Anadolu

Kementerian luar negeri (Kemlu) Rusia pada Rabu (4/2/2026), mengumumkan bahwa negaranya memutuskan hubungan dengan Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis Lebih Lanjut (New START), dengan Amerika Serikat (AS).

Dengan putusnya hubungan perjanjian itu, kini Rusia tidak lagi terikat oleh kewajiban dan deklarasi simetris, serta bebas menentukan langkah selanjutnya dalam persenjataan.

Sebelumnya, Kemlu Rusia mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya memperpanjang perjanjiannya dengan AS itu, dengan inisiatif terakhirnya diajukan pada 22 September.

Saat itu, Vladimir Putin Presiden Rusia secara terbuka mengusulkan agar pembatasan senjata terkait dalam perjanjian tersebut tetap diberlakukan setidaknya selama satu tahun setelah masa berlakunya berakhir.

Namun, kementerian itu mengaku belum menerima tanggapan resmi dari AS terkait inisiatif tersebut melalui saluran bilateral.

“Dalam situasi saat ini, kami berasumsi bahwa para pihak dalam New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka perjanjian tersebut, termasuk ketentuan intinya, dan pada prinsipnya bebas memilih langkah selanjutnya,” kata Sergey Viktorovich Lavrov Menlu Rusia seperti dikutip Antara, pada Kamis (5/2/2026).

Rusia menyatakan akan bertindak “secara bertanggung jawab dan seimbang” dengan mengembangkan kebijakannya di bidang senjata serangan strategis berdasarkan analisis menyeluruh terhadap kebijakan militer AS dan situasi umum di ranah strategis.

Kemlu Rusia kembali menegaskan kesiapan pemerintahnya untuk mengambil langkah militer-teknis yang tegas guna menangkal potensi ancaman tambahan terhadap keamanan nasional.

“Pada saat yang sama, negara kami tetap terbuka untuk mencari cara-cara politik dan diplomatik guna menstabilkan situasi strategis secara menyeluruh berdasarkan solusi dialog yang setara dan saling menguntungkan, apabila kondisi yang sesuai untuk kerja sama tersebut tercipta,” kata kementerian itu.

New START merupakan satu-satunya perjanjian yang tersisa dan mengikat secara hukum untuk membatasi kekuatan nuklir strategis AS dan Rusia. Berakhirnya perjanjian itu memicu kekhawatiran akan dimulainya era baru persaingan nuklir tanpa regulasi.(ant/ily/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 5 Februari 2026
29o
Kurs