Sebanyak 22 negara, mayoritas anggota NATO, mulai menyusun langkah pengamanan di Selat Hormuz untuk memastikan jalur pelayaran global kembali terbuka.
Mark Rutte Sekretaris Jenderal NATO mengatakan koordinasi tersebut telah berlangsung sejak Kamis (19/3/2026). “Kabar baiknya adalah bahwa sejak Kamis, sebuah kelompok yang terdiri dari 22 negara, sebagian besar adalah anggota NATO telah berkumpul untuk memastikan Selat Hormuz bebas dan terbuka sedini mungkin,” ujarnya kepada FOX News yang dikutip Antara.
Selain negara anggota NATO, sejumlah negara mitra seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga terlibat dalam perencanaan tersebut. Namun, detail langkah konkret yang akan diambil belum diungkap.
Rutte menegaskan pembahasan masih berlangsung, seiring situasi militer di kawasan yang belum stabil. “Jelas, operasi militer terkait Iran masih berlangsung. Karena itu, kami bekerja bersama negara-negara ini, dan tentu saja dengan AS, untuk mengetahui apa, kapan, dan bagaimana kami akan melakukannya,” katanya.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terhenti, mengganggu distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk ke pasar global. Kondisi ini turut memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.(ant/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
