Suko Widodo pakar komunikasi Universitas Airlangga (Unair) terpilih sebagai Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Wilayah Jawa Timur untuk periode 2026–2028. Ia ditetapkan secara aklamasi dalam Musyawarah Wilayah (Musywil) ISKI Jawa Timur yang digelar di Surabaya, Sabtu (31/1/2026).
Terpilihnya Suko Widodo mencerminkan kepercayaan penuh dari para anggota ISKI Jawa Timur terhadap kapasitas akademik dan kepemimpinannya di bidang komunikasi. Dalam pidato perdananya, ia menyoroti tantangan serius yang tengah dihadapi dunia komunikasi akibat masifnya perkembangan teknologi digital.
Suko menilai, derasnya arus digitalisasi membawa dampak disrupsi yang tidak ringan, terutama terhadap kualitas komunikasi antarmanusia. Ia mengingatkan agar praktik komunikasi tidak tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita semua perlu berikhtiar untuk mengembalikan fungsi komunikasi yang berlandaskan kemanusiaan, agar teknologi komunikasi digital tidak justru merusak masa depan anak-anak kita,” ujar Suko.
Ia menegaskan, teknologi sejatinya merupakan alat bantu, bukan penentu arah relasi sosial. Tanpa kendali etika yang kuat, perkembangan teknologi justru berpotensi menggerus kualitas hubungan sosial dan membentuk pola komunikasi yang tidak sehat, khususnya bagi generasi muda.
“Teknologi seharusnya tidak merusak masa depan anak-anak dan tidak menghancurkan relasi sosial yang telah kita bangun bersama,” tambahnya.
Oleh karena itu, Suko menekankan pentingnya etika komunikasi sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan era digital. Ia mendorong para sarjana, akademisi, dan praktisi komunikasi untuk menjadikan etika sebagai pijakan bersama dalam merespons perubahan zaman.
Musyawarah Wilayah ISKI Jawa Timur tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Communication Outlook 2026 yang mengusung tema Menjaga Arah, Menjaga Keberlanjutan. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus serta anggota ISKI Jawa Timur dari berbagai latar belakang akademik dan profesional.
Melalui kepemimpinannya, Suko Widodo berharap ISKI Jawa Timur dapat berperan lebih aktif dalam menjaga kualitas komunikasi publik yang beretika, humanis, dan berkelanjutan, seiring dengan pesatnya transformasi teknologi komunikasi di Indonesia. (saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
