Senin, 5 Januari 2026

Super Flu Sudah Masuk Indonesia, Pakar Tekankan Pencegahan dan Penanganan Dini

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi seseorang yang sedang menderita flu. Foto: Pixabay

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa super flu atau varian Influenza A (H3N2) subclade K sudah masuk Indonesia.

Kemenkes mencatat ada 62 kasusyang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak-anak.

Tapi Kemenkes menegaskan bahwa situasi flu itu di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam “kondisi terkendali” dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

Terkait hal ini, Prof. Dr. Nasronuddin, Ketua Badan Pertimbangan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menjelaskan bahwa super flu berbeda dengan flu biasa yang umumnya disebabkan oleh virus influenza A, B, atau C.

Gejala super flu meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, disertai batuk, pilek, nyeri tenggorokan, serta penurunan nafsu makan.

“Flu biasa pada dasarnya bersifat self-limited, bisa sembuh sendiri dengan istirahat cukup, asupan gizi yang baik, serta obat sesuai gejala. Tapi untuk flu super ini suatu penyakit flu yang berat,” kata dokter di Rumah Sakit (RS) Unair itu saat dihubungi suarasurabaya.net, Minggu (4/1/2026).

Super flu, kata dia, disebabkan oleh virus yang lebih agresif atau mengalami mutasi strain influenza. Akibatnya, keluhan yang muncul jauh lebih berat dan proses penyembuhan memerlukan waktu lebih lama.

“Demamnya bisa lebih tinggi, nyeri otot dan sendi lebih hebat, sakit kepala berat, tubuh sangat lemah, sulit tidur, mual, hingga gangguan pernapasan yang menonjol,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pada kondisi tertentu seperti dalam kondisi kelelahan, kurang istirahat, serta dalam situasi perubahan cuaca ekstrem, super flu bisa berkembang dari infeksi saluran napas atas ke saluran napas bawah dan memicu pneumonia.

“Kalau sudah masuk ke paru-paru dan menimbulkan radang paru, itu kondisi berat dan bisa mengancam jiwa,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa penanganan super flu harus dilakukan dengan serius, yakni selain istirahat fisik dan psikologis yang cukup. Pasien harus mengonsumsi makanan bergizi dilengkapi multivitamin dan multimineral untuk menjaga daya tahan tubuh.

Lebih lanjut, pengobatan juga disesuaikan dengan keluhan, mulai dari obat penurun demam, obat flu, hingga bantuan oksigen jika muncul sesak napas.

Terkait pencegahan, ia mengatakan bahwa vaksinasi influenza menjadi upaya proteksi sebelum terinfeksi. Selain itu, penerapan perilaku hidup sehat juga menjadi kunci utama.

“Istirahat cukup minimal tujuh jam per hari, olahraga teratur, menjaga pola makan, serta konsumsi multivitamin dan mineral,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penggunaan masker terutama di kerumunan, displin cuci tangan, serta memeriksakan firi ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala.

Ia juga menyarankan isolasi bagi pasien bergejala untuk memutus rantai penularan, termasuk pemisahan tempat tidur di rumah bila diperlukan. Apalagi saat ini beberapa daerah di Indonesia, termasuk Jatim juga sedang dilanda cuaca ekstrem.

“Jadi, super flu jangan dianggap ringan, harus diantisipasi dengan baik agar memperoleh suatu pemulihan kesehatan yang sempurna,” pungkasnya.(ris/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Senin, 5 Januari 2026
28o
Kurs