Pemerintah Kota Surabaya menyatakan telah memantau peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi curah hujan tinggi berlanjut pada tanggal 28 sampai 30 Juni 2026.
Prediksi pasang air laut yang tinggi pada periode yang sama menjadi perhatian utama.
“Yang sangat kami khawatirkan adalah ketinggian pasang. Kalau curah hujan tinggi tapi laut tidak pasang, air bisa lancar masuk ke laut,” kata Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (23/6/2026).
Wali Kota juga menyampaikan kondisi topografi Surabaya yang kini lebih rendah dari permukaan air sungai dan laut sebagai tantangan struktural jangka panjang kota ini.
Perlu diketahui, pada Senin (22/6/2026) dan Selasa (23/6/2026) sebagian wilayah Kota Surabaya terendam banjir di pagi hari. Genangan muncul setelah hujan deras mengguyur kota sejak dini hari.
BMKG Juanda menjelaskan, hujan deras yang tiba-tiba turun di tengah musim kemarau ini dipicu oleh beberapa faktor.
Gangguan konvergensi lokal, suhu muka laut di sekitar Jawa Timur yang hangat berkisar 26–30 °C sehingga memicu penguapan signifikan, serta kondisi atmosfer yang labil dan cukup lembab di lapisan bawah hingga menengah.
Kombinasi faktor-faktor tersebut mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang.
BMKG memperkirakan intensitas cuaca ekstrem ini mulai melemah setelah tiga hari.
Kondisi cuaca ekstrem ini bersamaan dengan penutupan saluran air karena proyek box culvert dan air laut pasang.
Pemkot tengah mengerjakan berbagai proyek perbaikan dan pemasangan box culvert di sejumlah titik strategis, di antaranya kawasan Ahmad Yani, Jantar, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol (rumah pompa Dinoyo), dan Rungkut. Pengerjaan ini mengharuskan sejumlah saluran ditutup sementara, sehingga aliran air terhambat ketika hujan tiba-tiba turun.
Kemudian, kondisi air laut yang sedang pasang membuat air yang dipompa keluar justru berbalik masuk ke daratan.(iss/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

