Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mencibir peraih Nobel Perdamaian tahun ini, Navi Pillay, setelah penghargaan itu tidak diberikan kepadanya tahun ini. Trump menyebut Pillay yang merupakan aktivis asal Afrika Selatan dan pejuang Hak Asasi Manusia sebagai sosok yang tidak dikenal publik.
Cibiran itu disampaikan Trump dalam kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, Jumat (9/10/2026) waktu setempat, menjelang pemilihan paruh waktu 3 November.
“Hari ini mereka memberikan Nobel Perdamaian kepada seseorang yang tidak pernah saya dengar. Orang itu tidak dikenal siapa pun. Ini orang misterius,” kata Trump, seperti dikutip Anadolu.
Trump juga menyebut Pillay sebagai orang liberal yang bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang tidak pernah didengar siapa pun. Meski begitu, ia tetap menyampaikan ucapan selamat secara singkat. “Tapi, selamat saja,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Trump kembali menyatakan dirinya layak menerima Nobel Perdamaian. Ia mengklaim telah menyelesaikan delapan perang, termasuk konflik antara India dan Pakistan.
“Salah satu saja dari delapan perang ini, Anda bisa mendapat Nobel. Saya menyelesaikan delapan. Tidak ada presiden yang pernah melakukannya,” kata Trump.
Ia kemudian mengkritik Komite Nobel Perdamaian dan Norwegia, negara tempat penghargaan itu berasal. Menurutnya, Amerika Serikat yang ia wakili sebagai presiden semestinya menerima penghargaan tersebut.
“Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden kalian, seharusnya menerima Nobel Perdamaian, tetapi tidak. Ini noda yang tidak terhapuskan bagi Norwegia,” ujarnya.
Ia juga menuding penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas karena dipengaruhi kelompok ideologis radikal.
“Nobel Perdamaian telah selamanya didiskreditkan oleh segelintir ideolog radikal yang anti-demokrasi dan benar-benar musuh peradaban,” kata Trump.
Cibiran juga disampaikan Trump di platform Truth Social miliknya. Ia lagi-lagi mengaku tidak mengenal sosok Pillay dan menyebut tidak banyak orang yang tahu tentangnya.
“Saya tidak tahu apa pun tentang perempuan ini, dan begitu juga orang lain. Sepengetahuan saya, tidak ada yang pernah mendengar tentang dia, selain fakta bahwa dia sangat jelas membenci Israel,” tulis Trump.
Pillay sendiri merupakan ahli hukum asal Afrika Selatan. Ia pernah menjabat sebagai hakim dan presiden International Criminal Tribunal for Rwanda, hakim di International Criminal Court, serta Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pada 2008–2014.
Ia juga memimpin penyelidikan PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki pada 2021–2025. Komisi tersebut menyatakan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza, temuan yang ditolak Israel.
Komite Nobel menyebut Pillay berperan penting dalam upaya menuntut kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida. Komite juga menilai kerja Pillay telah memperluas dampak hukum internasional.(bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

