Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) berada di balik meningkatnya aksi unjuk rasa dan ketidakstabilan di negara tersebut.
Tuduhan itu disampaikan Amir Saeid Iravani Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam surat resmi kepada Antonio Guterres Sekretaris Jenderal PBB.
Dalam surat tersebut, Iravani mengecam keras apa yang ia sebut sebagai campur tangan Washington dalam urusan dalam negeri Iran. Ia menuding AS, bersama Israel, secara aktif mendorong kekacauan melalui ancaman, hasutan, dan provokasi yang disengaja.
Ia juga menyinggung perubahan aksi unjuk rasa damai di Iran menjadi kerusuhan disertai aksi vandalisme. Unjuk rasa di Iran mulai terjadi pada akhir Desember seiring melemahnya mata uang setempat, rial Iran. Para pengunjuk rasa memprotes fluktuasi tajam nilai tukar dan dampaknya terhadap harga di tingkat grosir maupun eceran.
Dilansir dari Antara, korban tewas akibat kerusuhan dilaporkan terus bertambah. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu (10/1/2026) melaporkan, jumlah korban meninggal mencapai 65 orang setelah aksi protes berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Disebutkan bahwa protes terjadi di 512 lokasi di 180 kota di seluruh 31 provinsi, mengakibatkan kematian 50 demonstran, 14 petugas penegak hukum dan keamanan, dan satu warga sipil yang berafiliasi dengan pemerintah.
Demonstrasi juga menyebabkan puluhan orang terluka dan 2.311 orang ditahan. Menurut laporan tersebut, sebagian besar luka disebabkan oleh tembakan peluru karet dan peluru plastik. Pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan tentang mereka yang tewas atau terluka.
Iran telah menyaksikan gelombang protes sejak akhir Desember, sebagian besar karena penurunan tajam nilai rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi dimulai pada 28 Desember di dekat Grand Bazaar Tehran dan kemudian meluas ke beberapa kota.
Di tengah situasi tersebut, Donald Trump Presiden AS beberapa kali melontarkan pernyataan bernada ancaman terhadap otoritas Iran. Pada Jumat (9/1/2025), Trump mengatakan Washington akan turun tangan dan akan “memukul mereka sangat keras di titik yang paling menyakitkan” jika para pengunjuk rasa terbunuh dalam kerusuhan di Iran. (ant/saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
