Sabtu, 24 Januari 2026

Trump Mengerahkan Kapal Perang AS Menuju Iran dan Siagakan Pertahanan Udara

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Kapal induk USS Abraham Lincoln. Foto The Guardian

Donald Trump Presiden Amerika Serikat mengungkap tengah memantau Iran dan mengerahkan sebuah armada perang Amerika tengah menuju Timur Tengah.

“Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat,” tutur Trump seperti dilansir The Guardian Sabtu (24/1/2026).

Kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perusak berpeluru dijadwalkan tiba dalam beberapa hari mendatang.

Tidak hanya kapal perang, Trump juga menyatakan sistem pertahanan udara juga sedang dikerahkan di sekitar pangkalan udara AS dan Israel. Sementara Inggris akan mengirimkan jet Eurofighter Typhoon RAF dari Skuadron 12 ke Qatar, atas permintaan Doha.

Menanggapi hal ini, seorang pejabat senior Iran mengatakan akan memberikan respon yang keras.

“Perang habis-habisan melawan kami, dan kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin,” katanya.

Sebelumnya AS sempat menarik diri dari Iran, alasannya tidak diberi pilihan militer yang menentukan perubahan rezim di Teheran. AS juga didesak menahan diri oleh negara-negara teluk.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan korban tewas akibat penindakan keras Iran terhadap para pengunjuk rasa telah mencapai 5.002. Terdiri dari 4.716 demonstran, 203 orang yang berafiliasi dengan pemerintah, 43 anak-anak, dan 40 warga sipil yang tidak ikut serta dalam protes. HRANA mengatakan setidaknya 26.541 orang telah ditangkap.

Aksi protes dimulai sejak 28 Desember, saat para pedagang turun ke jalan di Teheran sebagai respons terhadap penurunan nilai rial secara tiba-tiba.

Maraknya protes juga meningkatkan tuntutan, yaitu seruan mengakhiri pemerintahan negara tersebut, menciptakan kerusuhan paling serius dan mematikan di Iran sejak revolusi 1979.

Iran juga didesak PBB mengakhiri penindasan brutal, termasuk pengadilan tanpa pengadilan, dan mendesak moratorium total terhadap penggunaan hukuman mati. (lea/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 24 Januari 2026
31o
Kurs