Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mengeksplorasi berbagai strategi untuk menekan Iran tanpa harus mengandalkan serangan udara. CBS News melaporkan, langkah-langkah tersebut mencakup operasi siber dan upaya melemahkan pemerintahan Iran dari dalam.
Meski begitu, laporan itu menekankan, kekuatan udara dan rudal jarak jauh tetap menjadi komponen utama dalam setiap skenario respons militer yang mungkin dilakukan Washington terhadap Teheran.
Dilansir dari Antara, pada akhir Desember 2025 lalu Trump mengatakan bahwa AS akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran mencoba untuk terus mengembangkan program rudal dan nuklirnya.
Kemudian, di tengah protes yang terjadi di Iran, Trump mengancam negara itu dengan serangan dahsyat jika para demonstran terbunuh. Dia juga berjanji akan mendukung rakyat Iran jika diperlukan.
Protes meletus di Iran pada akhir Desember 2025, di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial Iran.
Para pengunjuk rasa mengeluhkan fluktuasi nilai tukar yang menyebabkan kenaikan harga grosir dan eceran, dan mendorong Mohammad-Reza Farzin Gubernur Bank Sentral Iran untuk mengundurkan diri.
Sejak 8 Januari 2026, menyusul seruan dari Reza Pahlavi putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, aksi protes semakin intensif di Iran.
Pada hari yang sama, akses internet diblokir di seluruh negeri. Di beberapa kota di Iran, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi ketika para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah.
Terdapat juga laporan korban jiwa di antara pasukan keamanan dan para demonstran. Pihak berwenang Iran menyatakan pada 12 Januari bahwa situasi telah terkendali. (ant/ily/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
