Minggu, 8 Maret 2026

Trump Tolak Negosiasi dengan Iran, Usulkan Eliminasi Seluruh Calon Pemimpin

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Donald Trump Presiden Amerika Serikat ketika memberikan keterangan terkait serangan AS di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Gedung Putih

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan pada Sabtu (7/3/2026), dirinya tidak tertarik bernegosiasi dengan Iran.

Hal ini membuat kemungkinan perang AS dengan Iran akan berakhir ketika Iran tidak lagi memiliki pasukan militer yang berfungsi atau kepemimpinan yang berkuasa.

Trump mengatakan bahwa serangan udara terhadap Iran membuat negosiasi menjadi sia-sia ketika seluruh calon pemimpin Iran telah dibunuh dan militer Iran dihancurkan.

“Pada suatu saat saya tidak berpikir akan ada orang yang tersisa untuk mengatakan ‘Kami menyerah’,” ucap Trump, seperti dilaporkan Reuters, Minggu (8/3/2026).

Memasuki minggu kedua perang, Israel dan Iran saling melancarkan serangan pada Sabtu. Pemimpin Iran meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan Iran pada beberapa titik pangkalan militer AS.

“Saya secara personal memohon maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena dampak dari aksi Iran,” ujar Masoud Pezeshkian Presiden Iran.

Ia memberi tanggapan kepada tuntutan Trump mengenai penyerahan tanpa syarat sebagai “sebuah mimpi”. Namun Iran setuju untuk menghentikan sementara serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali serangan berasal dari wilayah mereka.

Pernyataan Pezeshkian tersebut dikatakan memungkinkan adanya perpecahan di kalangan pejabat Iran. Namun Ali Ardashir Larijani Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran menyebut hal itu tidak benar.

Di sisi lain, Trump menilai permohonan maaf Iran sebagai kekalahan dan penyerahan diri Iran, serta ia mengingatkan seranagan AS bisa terjadi lebih luas lagi.

Menanggapi hal tersebut, Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel mengatakan bahwa Korps Garda Revolusi Iran akan dibiarkan selamat jika mereka menyerahkan senjatanya.

Arab Saudi juga telah memberi peringatan pada Teheran bahwa meskipun pihaknya mendukung penyelesaian diplomatik, jika Iran menyerang kerajaan dan sektor energi Arab Saudi terus-menerus maka Riyadh dapat membalas seranagn dengan cara yang sama.

Iran Menargetkan Pangkalan Militer AS

Pernyataan Pezeshkian menimbulkan perpecahan politik di Iran, membuatnya untuk menegaskan kembali bahwa Iran akan menanggapi serangan dari pangkalan militer AS di wilayah negara-negara tetangga dengan tegas.

Beberapa jam kemudian, Pezeshkian mengulangi pernyataannya yang diunggah pada media sosial tetapi dengan menghapus ucapan permintaan maafnya. Hal itu menyulut amarah beberapa pihak termasuk Korps Garda Revolusi .

Hamid Rasai, seorang ulama dan anggota parlemen Iran, memberikan tanggapan.

“Tuan Pezeshkian, sikap Anda tidak profesional, lemah, dan tidak dapat diterima,” tulisnya di media sosial.

Mohseni-Ejei, ahli hukum Iran, mengatakan beberapa negara di kawasan Timur Tengah digunakan oleh AS untuk menyerang Iran, dan serangan balasan tetap akan berlanjut.

Setelah pernyataan Pezeshkian, Korps Garda Revolusi Iran mengatakan drone mereka menyerang pusat komando udara AS di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab (UEA). Laporan ini belum diverifikasi secara independen.

Pada malam hari, Korps Garda Revolusi Iran mengungkapkan target mereka yakni sebuah kilang minyak Israel. Tidak ada laporan kerusakan meski sirene serangan udara berbunyu di kawasan Haifa, Israel.

Tangki penyimpanan bahan bakar milik Bandara Internasional Kuwait disebut menjadi sasaran serangan drone, kata Tentara Kuwait.

Selanjutnya laporan masuk mengatakan bahwa terdapat roket yang menargetkan Kedutaan Besar AS di Baghdad, Irak. Mohammed Shia Al Sudani Perdana Menteri Irak meminta pasukan keamanannya untuk memburu pihak yang bertanggung jawab.

Kementerian Minyak Iran melaporkan depot bahan bakarnya di tiga wilayah mengalami serangan, termasuk di wilayah Barat Teheran.

Teheran kemudian menanggapinya dengan menyerang Israel serta negara-negara Arab Teluk yang menjadi tempat pangkalan militer AS.

Israel menyerang Lebanon setelah pasukan liar Hezbollah yang berasosiasi dengan Iran menembakkan roket melintasi perbatasan.

Negara-negara tetangga Iran melaporkan adanya serangan drone atau rudal dalam sepekan terakhir, termasuk UEA, Kuwait, Qatar, Bahrain, Oman, Arab Saudi, dan Irak.

Israel Memperingatkan Lebanon untuk Menghentikan Hizbullah

Eskalasi konflik yang semakin runyam membuat Israel memberi peringatan kepada Lebanon bahwa mereka akan membayar “harga yang sangat mahal” jika Hezbollah tidak dihentikan. Sementara itu Israel terus menyerang basis-basis kelompok Hizbullah melalui serangan udara.

Sabtu (7/3/2026) pagi, wilayah kekuasaan Hizbullah di pinggiran selatan Beirut mengalami banyak kerusakan dan kehancuran akibat serangan.

Sejak Senin, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon meningkat menjadi 294 korban jiwa.

Sementara di Iran, serangan AS-Israel telah menewaskan sebanyak 1.332 warga sipil serta ribuan lainnya yang terluka.

Ledakan besar terus terdengar di beberapa bagian Teheran, sementara Israel mengatakan pihaknya telah menyerang situs rudal dan pusat komando Iran. (vve/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Minggu, 8 Maret 2026
31o
Kurs