Sebanyak 36 orang dilaporkan meninggal dalam 10 hari terakhir akibat gelombang unjuk rasa yang meluas di Iran. Data tersebut disampaikan kelompok pemantau hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang menyebut 34 korban merupakan demonstran dan dua lainnya terkait dengan aparat keamanan, Selasa (6/1/2026) waktu setempat.
Otoritas Iran belum merilis angka resmi korban meninggal dunia. Namun, Pemerintah Iran menyatakan tiga personel keamanan meninggal dunia. Sementara itu, BBC Persian pada Rabu (7/1/2026), melaporkan telah mengonfirmasi identitas 20 orang yang meninggal.
HRANA juga melaporkan, lebih dari 60 demonstran mengalami luka-luka dan 2.076 orang ditangkap selama kerusuhan yang dipicu krisis ekonomi dan telah menyebar ke 27 dari 31 provinsi di Iran.
Pada Selasa malam, media semi-resmi Iran melaporkan seorang polisi tewas ditembak oleh pihak yang mereka sebut sebagai rioters atau perusuh di Malekshahi, Provinsi Ilam, wilayah yang dalam beberapa hari terakhir mengalami protes meluas dan penindakan keras aparat keamanan.
Sebelumnya, aparat keamanan terekam menembakkan gas air mata saat bentrokan dengan demonstran di Grand Bazaar Teheran pada Selasa malam. Massa terdengar meneriakkan slogan menentang pemimpin ulama Iran.
Aksi protes bermula pada Minggu, tanggal 28 Desember 2025, ketika para pedagang turun ke jalan di ibu kota menyusul anjloknya nilai tukar Rial Iran terhadap Dollar AS di pasar bebas.
Nilai Rial mencapai titik terendah sepanjang sejarah dalam setahun terakhir, sementara inflasi melonjak hingga 40 persen akibat sanksi terkait program nuklir Iran, diperparah oleh salah urus dan korupsi.
Mahasiswa kemudian bergabung dalam aksi tersebut, yang menyebar ke berbagai kota.
Video yang diperoleh BBC Persian dari protes di Grand Bazaar Teheran memperlihatkan massa meneriakkan “death to the dictator”, merujuk pada Khamenei, sebelum membubarkan diri akibat gas air mata.
Di Provinsi Ilam, rekaman menunjukkan aksi massa di Abdanan dan Malekshahi, termasuk insiden perusakan dan pembakaran. Kantor Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan telah memerintahkan pembentukan delegasi khusus untuk menyelidiki kerusuhan di wilayah tersebut.
Unjuk rasa ini menjadi yang paling meluas sejak gelombang protes 2022 akibat kematian Mahsa Amini. Saat itu, lebih dari 550 orang tewas dan 20 ribuan orang ditahan dalam penindakan aparat, menurut kelompok HAM. (ham/rid)
NOW ON AIR SSFM 100
