Pemerintah Kolombia menegaskan komitmennya untuk tetap bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) dalam pemberantasan narkoba, meski hubungan kedua negara sempat memanas.
Dalam pernyataan bersama di platform X pada Senin (5/1/2026), Armando Benedetti Menteri Dalam Negeri Kolombia dan Andres Idarraga Franco Menteri Kehakiman Kolombia, menyatakan kesiapan Kolombia untuk terus berkoordinasi dengan AS, khususnya dalam bidang intelijen dan teknologi, untuk membongkar jaringan kriminal.
“Pemerintah Kolombia telah memberi tahu pemerintah AS, termasuk badan intelijennya, bahwa kami akan terus berkoordinasi dan bekerja sama dalam pemberantasan perdagangan narkoba,” ujar Benedetti, dilansir dari Antara.
BACA JUGA: Trump Buka Peluang Operasi Militer AS ke Kolombia
Ia menambahkan bahwa kerja sama ini mencakup pemanfaatan intelijen dan teknologi AS untuk menutup laboratorium, jaringan kriminal, serta kamp kejahatan.
Sementara itu, Franco menekankan bahwa pemberantasan narkotika harus dilakukan secara kolaboratif, dengan memanfaatkan peluang kerja sama bilateral. Kolombia akan memprioritaskan upaya tersebut, terutama di wilayah perbatasan dengan Venezuela.
Sebelumnya, pada 3 Januari 2026 lalu AS melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro Presiden Venezuela dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka ke New York.
Donald Trump Presiden AS mengatakan, pasangan itu akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narko-terorisme” dan dianggap menimbulkan ancaman, termasuk bagi AS.
Belakangan, Trump juga menuduh Gustavo Petro Presiden Kolombia memproduksi kokain dan tak menutup kemungkinan militer AS melakukan operasi serupa ke Kolombia. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
