JD Vance Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) mengakui serangan militer negaranya bisa saja secara tidak sengaja mengenai warga sipil selama perang melawan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Vance, menyusul laporan bahwa serangan udara AS mengenai sebuah pesta pernikahan di Iran hingga menimbulkan puluhan korban.
“Sayangnya, tentu saja, terkadang hal-hal seperti itu terjadi,” kata Vance, Kamis (3/9/2026) dikutip Anadolu.
Meski mengakui kemungkinan adanya korban sipil, Vance menegaskan militer AS tidak pernah sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran.
“Yang bisa saya katakan dengan keyakinan 100 persen adalah, tidak seperti IRGC (Korps Garda Revolusi Iran), Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran. Kami tidak akan pernah melakukan itu. Kami juga tidak pernah melakukannya,” ujarnya.
Pemerintah AS kini menyelidiki laporan bahwa serangannya mengenai pesta pernikahan di Iran. Vance mengaku telah mendapat pengarahan mengenai penyelidikan itu, tetapi sejauh ini belum ada informasi yang memastikan pasukan AS bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Ia juga mengaku skeptis terhadap laporan media pemerintah Iran mengenai insiden itu. Menurut Vance, jika militer AS melakukan kesalahan dalam operasi, kasus tersebut akan diselidiki dan dijadikan bahan evaluasi.
Sementara itu, Hossein Kermanpour Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran menyebut, sedikitnya 18 orang meninggal dan 142 lainnya terluka akibat serangan udara AS pada periode malam 30 Agustus hingga 2 September 2026.
Ia menyebut korban meninggal antara lain berada di Sirik, Khuzestan, Kermanshah, dan Pulau Lavan. Kermanpour juga mengatakan sedikitnya 50 orang terluka dalam serangan yang mengenai sebuah pesta pernikahan di Sirik.
Di tengah konflik yang berlangsung, Vance menegaskan Washington belum membuka pembicaraan dengan Teheran. Menurutnya, AS tidak akan kembali berunding sampai Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial.
“Presiden (Trump) sudah sangat jelas: kami tidak berbicara dengan mereka, dan kami tidak akan berbicara dengan mereka kecuali mereka berhenti menembaki kapal komersial,” kata Vance.
AS, lanjutnya, masih menggunakan tekanan militer, ekonomi, diplomatik, dan langkah lainnya untuk menjaga pelayaran komersial serta aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Vance menyebut tujuan utama Washington tetap mencegah Iran memiliki senjata nuklir sekaligus menghindari terjadinya krisis energi global. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

