“Jika pembentukan kantong udara ini terganggu dan tidak ditangani hingga sembuh total, dampaknya bisa terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Bahkan, paparan partikel halus PM 2.5 dapat mengganggu pasokan oksigenasi ke otak, yang berpotensi memicu gangguan kognitif pada tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, dampak kesehatan akibat asap karhutla terbagi menjadi dua fase. Dalam jangka pendek, anak akan langsung mengalami iritasi mata, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga serangan asma.
Sementara dalam jangka panjang, anak berisiko mengalami Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), gangguan kardiovaskular, penurunan fungsi kognitif, hingga risiko kanker.
Sehingga dia mengimbau agar para orang tua peka terhadap tanda-tanda bahaya darurat pada anak. Gejala seperti suara napas yang berbunyi (mengi), adanya tarikan dinding dada (retraksi) serta kembang-kempis cuping hidung saat bernapas menjadi petunjuk kuat bahwa anak mengalami kekurangan oksigen parah dan harus segera dilarikan ke IGD.
“Waspadai juga jika bibir, lidah, atau ujung jari anak mulai membiru, serta terjadinya penurunan kesadaran seperti anak tampak sangat lemas, gelisah, atau mengantuk yang tidak wajar. Ini adalah sinyal bahaya yang membutuhkan penanganan medis secepatnya,” tegasnya.
NOW ON AIR SSFM 100

