Sabtu, 21 Mei 2022

Maskot Euro 2020: Olahraga Hak Siapa Saja, Tanpa Warna

Laporan oleh Chusnul Mubasyirin
Bagikan
Maskot Euro 2020 Skillzy. Foto: Footy Headline

Sudah menjadi tradisi, tiap perhelatan Piala Eropa atau Euro, selalu memiliki maskot khusus. Tapi pemakaian maskot baru diperkenalkan di Italia pada 1980, meski event sepak bola 4 tahunan itu pertama kali digelar 1960.

Maskot perdana saat itu menampilkan Pinoccio, yang terinspirasi cerita legenda boneka kayu asal Italia. Seriring waktu, tiap perhelatan sepak bola antar tim benua biru itu, selalu memunculkan simbol-simbol tradisi yang lebih kental. Gelaran Piala Eropa 2020 yang digelar di tengah pandemi virus Corona tahun ini/ memunculkan maskot yang diberi nama ‘Skillzy’. Sebenarnya, maskot itu sudah diperkenalkan sejak 25 Maret 2019.

Karakter ‘Skillzy’, menurut situs resmi UEFA, menunjukkan simbol kehidupan yang terinspirasi gaya ‘freestyle’, jalanan dan budaya panna, atau satu jenis olahraga yang diadaptasi dari sepak bola jalanan.

Peluncuran maskot dilakukan di Amsterdam Belanda, sebelum laga kualifikasi Piala Eropa 2020 Grup C antara Belanda melawan Jerman. Peluncuran ‘Skillzy’ diiringi dengan atraksi sejumlah freestyler, yang disaksikan lebih dari 55 ribu penonton di stadion Johan Cruijff Arena. Waktu itu, kemunculan ‘Skillzy’ didampingi dua freestyler kelas dunia, yakni Live Cooke dan Tobias Becs.

Meski maskot sudah menjadi simbol sebuah event, tetap saja ada yang mengkritisi. Banyak cibiran bermunculan di media sosial. Ada warganet yang menggugat, karakter ‘Skillzy’ tidak mencerminkan semangat kompetisi Euro 2020. Ada pula yang menganggap, penamaan ‘Skillzy’ tidak jelas filosofi dan tujuannya.

Karakter maskot yang digambarkan dengan laki-laki berjaket biru itu, juga dianggap menyeramkan dan aneh. Terutama karena bagian mata yang terlihat juling. Beberapa warganet bahkan khawatir, anak-anak akan ketakutan melihat tampilan fisik maskot.

Menurut Cristian Ang, Kepala Departemen Disain Komunikasi Visual Universitas Ciputra, meski sering dikritisi, seiring berjalannya waktu, maskot Euro 2020 sekarang sudah semakin membaik. Simbol-simbol yang disampaikan lebih humanis.

“Maskot yang dulu-dulu masih menampilkan fantasi. Bahkan pada 2016, menceritakan anak kecil yang menemukan jubah, sepatu dan seragam, sampai dia menjadi super hero. Tapi maskot kali ini, menampilkan bentuk realis. Bahwa anak jalanan pun bisa menjadi maskot dari perhelatan sebak pola terbesar di dunia seperti Euro. Itu menunjukkan, anak jalanan di perkampungan kumuh pun bisa menikmati sepak bola seperti Euro 2020,” katanya.

Kritik soal maskot juga pernah dilalukan saat gelaran Euro 2016 di Perancis. Waktu itu, maskot boneka super Victor, digambarkan sebagai boneka seks.

Kritik yang sama juga pernah terjadi, saat Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Maskot ‘Fuleco si Armadillo’ jenis binatang yang hampir punah, dikritisi Rodrigo Castro, kelompok pemerhati lingkungan. Apa yang dilakukan FIFA dianggap tidak etis. Mengekploitasi sosok binatang, untuk menghasilkan banyak uang.

“Kita terbiasa disodori maskot-maskot yang gembira, lucu, menjadi agak berbeda dengan mascot Euro tahun ini. Bisa jadi karena kita tidak siap. Tapi disainer mascot ini seperti ingin menunjukkan tampilan nyata sebuah kondisi dunia sekarang. Selama ini kita banyak dijejali konsep kulit putih lebih punya supremasi daripada kulit hitam. Tapi kondisi masyarakat terus berubah. Selain ras kulit putih, gaungnya semakin diperhatikan, dan diakui sejajar di mata dunia. Sukses bukan hanya milik mereka yang kulit putih, tapi yang kulit coklat atau hitam, punya kesempatan yang sama untuk bisa tampil,” tuturnya. (cus/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 21 Mei 2022
25o
Kurs