Senin (28/9/2026) pagi ini ada kabar baik dari Kanada. Brandon McNulty juara dunia 2026 di Montreal. Figur yang selama ini menjadi domestique, kini munggah bale jadi yang terbaik.
Kemenangan Brandon McNulty disambut sukacita di jagat maya. Ia sosok yang tidak diperhitungkan, Bukan dari negara adidaya balap sepeda masa kini. Namun sukses naik podium.
Nama lengkapnya Brandon Alexander McNulty. Usianya 28. Tergolong golden age untuk ukuran atlet sepeda. Ia berasal dari Amerika Serikat (AS). Kelahiran Phoenix, Arizona.
AS tak lagi raksasa balap sepeda. Dulu ada Greg LeMond dan Lance Armstrong disana. Kini AS tak punya jagoan. Memang ada Sepp Kuss. Ia sempat juara Vuelta a Espana 2023. Namun Kuss juga domestique di Visma Lease a Bike.
Selain Kuss ada McNulty. Ia memulai karier sejak 2012. Bergabung dengan tim amatir, Fly Racing. Lalu memperkuat Landis-Trek dan LUX Cycling Development. McNulty sempat tiga tahun di Rally Cycling. Tim Amerika yang saat itu berstatus UCI ProTeam. Kemudian gabung UAE Team Emirates XRG sejak 2020.
Sejak gabung UAE Team Emirates XRG, McNulty menjalani dua kehidupan. Ia punya kapasitas untuk mengejar kemenangan pribadi. Tapi dalam banyak kesempatan, ia harus mengesampingkannya dengan menjadi domestique.
Domestique adalah kata dalam bahasa Prancis. Bermakna pelayan. Dalam olahraga balap sepeda, domestique bertugas membantu team leader meraih kemenangan.
Domestique mengawal pemimpinnya ketika di dalam peloton. Ketika sang leader kehabisan bahan bakar, ia turun mengambil suplai makanan dan minuman dari team car. Lalu membagikannya kepada team leader maupun rekan setimnya.
Domestique bekerja dalam senyap. Mereka sangat jarang tersorot kamera. Kameramen televisi maupun fotografer biasanya mengambil pembalap unggulan. Para jurnalis pun menyorot para pemimpin atau pemenang lomba. Tanpa memandang siapa “tim sukses” dari para jagoan itu.
Tugas itulah yang selama tujuh musim ini dilaksanakan McNulty. Ia menjadi domestique saat Tadej Pogacar. Membersamai Pogi saat juara juara Tour de France 2021, 2022 dan 2026.
Selain itu, McNulty juga menjadi mendampingi Pogacar di sejumlah balapan lain. Seperti Il Lombardia dan Itzulia Basque Country pada 2021. Lalu UAE Tour 2023 dan 2024.
Kemudian GP Montréal, Liège-Bastogne-Liège, La Flèche Wallonne, Amstel Gold Race pada 2025. Serta Tour de Suisse dan Milano-Sanremo 2026.
Meski sering bekerja untuk pemimpin tim, McNulty bukan pembalap tanpa ambisi pribadi. Ia memenangi etape Giro d’Italia 2023, etape Vuelta a Espana 2024, lalu menjuarai Tour de Pologne 2025
Selain menjadi domestique, McNulty juga didukung untuk menang dan naik podium. Ia pernah menang etape di Giro d’Italia 2023, Vuelta a Espana 2024, lalu menjuarai Tour de Pologne 2025.
Kemudian, ini yang paling ikonik. McNulty memenangkan GP Montreal 2025. Pogacar jadi runner up. Keduanya mendominasi dalam balapan 14 September 2025 itu. Saat itu Pogacar membiarkan McNulty mencapai garis finis lebih dulu. Mengingatkan pada finis kontroversial Michael Schumacher–Rubens Barrichello di Indianapolis 2002.
Setahun berselang. Dini hari tadi McNulty kembali juara di Montreal. Kali ini eventnnya lebih besar. Bukan GP Montreal. Tapi Kejuaraan Dunia Road Race 2026. McNulty berhak mengenakan jesey pelangi. Setahun ke depan.
Tahun ini tak ada Pogacar di Kejuaraan Dunia. Sang superstar cedera saat lomba di La Vuelta 2026. Ia harus absen hingga akhir musim.
Ketiadaan Pogi membuat persaingan memanas. Mathieu van der Poel memimpin tim Belanda. Paul Seixas jadi ujung tombak Prancis. Meksiko punya Isaac del Toro, si “adik Pogacar”. Belgia pun bergelimang bintang. Ada Wout van Aert dan Ramco Evenepoel.
Dari sekian nama tersebut, Ramco Evenepoel datang dengan modal yang sangat kuat. Mantan pesepak bola Anderlech dan PSV ini pernah jadi juara dunia 2022. Ia merupakan juara dunia Time Trial. Empat edisi beruntun. Sejak 2023 hingga 2026.
Absennya Pogacar menjadi kesembatan besar Evenepoel untuk meraih jersey pelangi kedua di disiplin road race.
Akan tetapi, hasil akhir justru diluar prediksi. Bukan Van der Poel. Apalagi Evenepoel. McNulty lah yang merebut jersey pelangi. Ia menyelesaikan rute sepanjang 273,4 kilometer dalam 6 jam 17 menit 4 detik. McNulty unggul 13 detik atas Michael Matthews (Australia) dan Van der Poel. Sedangkan Evenepoel sendiri finis ke-12.
Seperti biasa, Evenepoel ngomel-ngomel usai balapan. Menyalahkan taktik agresif Prancis. Nahasnya, taktis Prancis justru ikut membuat Paul Seixas kehilangan peluang.
Saat Evenepoel sibuk mengkritik strategi lawan, McNulty merayakan gelar juara dengan riang.
McNulty mengaku sempat bercanda dengan istrinya pada pagi sebelum lomba. McNulty sadar diri. Tidak menganggap dirinya sebagai kandidat pemenang.
“Saya kehilangan kata-kata,” kata McNulty setelah finis.
“Saya tahu sesuatu bisa terjadi, tetapi dibutuhkan keajaiban. Dan hari ini, saya kira, keajaiban memang terjadi,” tuturnya.
McNulty juga menjadi pembalap Amerika Serikat pertama yang memenangi nomor road race putra di Kejuaraan Dunia dalam 33 tahun. Nama terakhir dari AS yang mengenakan jersey pelangi di nomor ini adalah Lance Armstrong pada 1993 di Oslo.
Gusti memang ora sare. Tujuh musim McNulty bekerja dalam senyap sebagai domestique. Kini, ia menyandang gelar juara dunia. Istilahnya, kere munggah bale. (saf/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

