Forum Baris Indonesia (Forbasi) Jawa Timur mendorong olahraga baris-berbaris menjadi wadah kegiatan positif bagi generasi muda. Selain melatih fisik, olahraga ini dinilai dapat membentuk karakter, kedisiplinan, konsistensi, serta menumbuhkan semangat nasionalisme.
R.B. Adityanto Indratama Ketua Forbasi Jawa Timur mengatakan, olahraga baris-berbaris memiliki potensi besar untuk berkembang karena telah lama digemari pelajar dan komunitas di berbagai daerah.
Namun, sebelum terbentuknya Forbasi, berbagai kompetisi baris-berbaris belum memiliki wadah organisasi yang mengakomodasi para pegiatnya secara luas.
“Tujuan kami adalah menyasar generasi muda agar memiliki kegiatan yang positif, di tengah banyaknya berita negatif tentang generasi muda saat ini,” kata Adityanto, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, kompetisi baris-berbaris sebenarnya telah berlangsung sejak awal 2000-an. Berbagai sekolah dan instansi rutin menyelenggarakan perlombaan, bahkan jumlahnya bisa mencapai sekitar sepuluh kali dalam setahun.
Namun, kegiatan tersebut masih berjalan secara terpisah tanpa wadah yang menaungi olahraga baris-berbaris secara menyeluruh.
Forbasi kemudian dibentuk pada 2024 untuk memperkuat ekosistem olahraga baris-berbaris di Indonesia. Organisasi tersebut kini telah berkembang di 25 provinsi, sedangkan Forbasi Jawa Timur memiliki 22 pengurus cabang (pengcab) yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Wilayah yang telah memiliki pengcab antara lain Sumenep, Banyuwangi, Tulungagung, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Madiun, hingga Bojonegoro.
Forbasi Jawa Timur masih berupaya memperluas jangkauan organisasi agar olahraga ini semakin dikenal dan dapat diakses masyarakat di seluruh daerah.
“Kami ingin olahraga baris-berbaris di Jawa Timur bisa menyeluruh. Ini merupakan kegiatan positif bagi generasi muda,” ujar Adityanto.
Salah satu upaya memperkuat pembinaan atlet dilakukan melalui Kejuaraan Daerah (Kejurda) Forbasi Jawa Timur. Ajang yang untuk pertama kalinya digelar di tingkat provinsi tersebut diikuti sekitar 240 tim dengan total hampir 4.000 peserta.
Peserta yang tampil merupakan tim-tim terbaik atau juara dari masing-masing kabupaten dan kota. Adityanto memperkirakan jumlah pegiat baris-berbaris di Jawa Timur jauh lebih besar karena masih banyak tim yang belum terakomodasi dalam kejuaraan tingkat provinsi.
“Untuk Kejurda Forbasi Jatim ini saja, kami mengambil para juara dari masing-masing kota dan kabupaten. Pesertanya mencapai 240 tim atau hampir 4.000 orang,” katanya.
Menurut dia, jumlah tim baris-berbaris di Jawa Timur diperkirakan telah mencapai ribuan. Di luar kejuaraan resmi Forbasi, berbagai perlombaan yang diselenggarakan sekolah, komunitas, dan penyelenggara lain juga rutin berlangsung sepanjang tahun.
Kejurda tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembinaan prestasi. Para juara yang terpilih akan dipersiapkan untuk mewakili Jawa Timur dalam kejuaraan nasional Forbasi yang direncanakan berlangsung di Bandung pada Desember mendatang.
Dalam Kejurda Forbasi Jawa Timur yang digelar di Surabaya pada 10-11 Oktober 2026, perlombaan dibagi berdasarkan kategori usia, yakni U-12 untuk tingkat sekolah dasar (SD), U-15 untuk sekolah menengah pertama (SMP), U-19 untuk sekolah menengah atas (SMA), serta kelas umum yang terbuka tanpa batasan kategori usia tersebut.
Adapun terdapat tiga nomor yang dipertandingkan. Pertama, Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dasar yang dilaksanakan di lapangan terbuka. Kedua, regu pengibar bendera atau rukibra yang menitikberatkan pada keterampilan dan formasi pengibaran bendera.
Nomor ketiga adalah variasi formasi musik atau Varformus, yakni pengembangan gerakan baris-berbaris yang dikombinasikan dengan musik dan kreasi formasi.
Menurut Adityanto, variasi nomor tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan teknis sekaligus kreativitas. Dengan demikian, olahraga baris-berbaris tidak hanya mengandalkan ketepatan gerakan, tetapi juga kerja sama tim, kekompakan, dan kemampuan mengolah formasi.
Khusus pada nomor pengibaran bendera, nilai nasionalisme menjadi salah satu aspek yang ingin ditanamkan kepada peserta. Nilai tersebut sejalan dengan upaya Forbasi menjadikan kegiatan baris-berbaris sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda.
Adityanto mengatakan, anak muda yang ingin menekuni olahraga baris-berbaris perlu memiliki kondisi fisik yang baik. Latihan yang intensif membutuhkan stamina, ketahanan tubuh, serta kemampuan menjaga ketepatan gerakan dalam waktu tertentu.
Namun, kemampuan fisik bukan satu-satunya modal yang diperlukan. Konsistensi dan disiplin dalam mengikuti latihan juga menjadi faktor penting untuk berkembang sebagai atlet.
“Namanya atlet itu memang konsistensi dan disiplin yang pertama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semangat berlatih perlu dijaga meskipun peserta menghadapi kelelahan atau tantangan selama proses pembinaan. Karena itu, Forbasi tidak hanya berupaya menghadirkan kompetisi, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung perkembangan para pegiat baris-berbaris.
Forbasi Jawa Timur juga membuka peluang bagi penyelenggara perlombaan untuk berafiliasi dengan organisasi tersebut. Adityanto menyebut, kejuaraan yang berafiliasi dengan Forbasi dapat memperoleh manfaat administratif, termasuk pendataan kegiatan yang dapat terhubung dengan pemerintah.
Ia juga memperkirakan ratusan kegiatan atau perlombaan baris-berbaris berlangsung di Jawa Timur setiap tahun, baik yang berafiliasi dengan Forbasi maupun yang diselenggarakan secara mandiri.
Di sisi lain, Forbasi Jawa Timur telah menyiapkan rencana penyelenggaraan Kejurda berikutnya. Adityanto menyebut terdapat tiga daerah yang berminat menjadi tuan rumah, salah satunya Kabupaten Pasuruan. Namun, keputusan mengenai lokasi penyelenggaraan berikutnya masih belum ditetapkan. (saf/faz/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

