Ia juga mengingatkan bahwa sepak bola semestinya menjadi ruang yang aman bagi seluruh pihak, mulai dari pemain, ofisial, pekerja media, perangkat pertandingan, hingga suporter. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan sepak bola harus dapat menjalankan aktivitasnya tanpa ancaman kekerasan.
Yunus mempertanyakan sampai kapan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan rivalitas akan terus terjadi. Ia menilai kejadian yang menimpa tim usia muda tersebut menjadi pengingat bahwa persaingan sepak bola tidak boleh berkembang menjadi tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain.
“Kalau seperti ini ulah-ulah suporter, tidak akan ada damai di sepak bola kita. Bayangkan saja, anak-anak Elite Pro Akademi yang masih usia dini dibuat seperti ini oleh suporter. Kami sangat menyayangkan. Sampai kapan ini akan berakhir kalau kita tidak saling sadar? Untuk apa kita melakukan hal-hal seperti itu?” tuturnya.
Selain meminta kepolisian mengusut kasus tersebut, PSSI mendorong I.League dan klub terkait mengambil langkah tegas. Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan dugaan kekerasan tidak dibiarkan dan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan kompetisi sepak bola nasional.
PSSI juga mengingatkan bahwa rivalitas seharusnya berlangsung di dalam pertandingan dan tetap menjunjung sportivitas. Hasil pertandingan, baik kemenangan maupun kekalahan, tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan terhadap pemain atau pihak lain.
“Kita juga berharap bahwa, ya, harus diakui rivalitas itu hanya 45 kali 2, itu pun cukup hanya ada di pemain. Suporter, ya, menang bersyukur, kalah harus diterima, dan tidak ada rivalitas yang ekstrem seperti ini. Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi. Sekali lagi kami mohon kepada pihak kepolisian untuk memberikan hukuman yang berat, menangkap mereka-mereka ini, dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya,” tegas Yunus. (saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

