Senin, 12 Oktober 2026

Radja Nainggolan Menilai Kariernya Bisa Berbeda Jika Dulu Memilih Timnas Indonesia

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Robson Duerte pemain Persebaya Surabaya berebut bola dengan Radja Nainggolan penggawa Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Minggu (4/2/2024) sore. Foto: Persebaya Robson Duerte pemain Persebaya Surabaya berebut bola dengan Radja Nainggolan penggawa Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Minggu (4/2/2024) sore. Foto: Persebaya

Radja Nainggolan mengungkapkan pandangan berbeda tentang perjalanan karier sepak bolanya setelah merasakan langsung kehidupan di Indonesia.

Mantan gelandang tim nasional Belgia itu mengakui, dirinya mungkin akan mempertimbangkan pilihan lain jika sejak awal mengenal sepak bola dan budaya Indonesia lebih dekat.

Pemain yang memiliki darah Indonesia dari sang ayah tersebut bahkan membayangkan kemungkinan menjalani karier internasional selama 15 tahun bersama Timnas Indonesia.

Menurutnya, besarnya antusiasme suporter, popularitas pemain, dan peluang komersial di Indonesia merupakan hal yang kini ia lihat dengan perspektif berbeda.

“Seandainya saya bisa mengulang semuanya, sekarang saya mungkin akan mempertimbangkan untuk memilih tim nasional Indonesia,” ungkap Nainggolan dalam wawancara dengan Het Nieuwsblad.

Ketika menjalani debut bersama tim nasional Belgia pada 2009, Nainggolan mengaku belum mengenal Indonesia dengan baik.

Ia tumbuh besar di Linkeroever, Belgia, setelah ayahnya meninggalkan keluarga ketika dirinya masih berusia sekitar lima tahun.

Kondisi tersebut membuat hubungan Nainggolan dengan negara asal ayahnya tidak terbentuk sejak kecil. Budaya Indonesia pun terasa asing baginya ketika mulai meniti karier sebagai pesepak bola profesional.

“Saya tidak bisa mempertimbangkan tim nasional Indonesia karena saya tidak mengenal negara itu,” tuturnya mantan pemain AS Roma itu.

Nainggolan baru berkesempatan mengunjungi Indonesia pada 2013. Saat itu, ia mendapat undangan untuk mengikuti tur selama dua pekan dengan bayaran yang menarik.

Ia mengunjungi sejumlah tempat, memberikan pelatihan kepada anak-anak, dan menjalani beberapa agenda wawancara.

Pengalaman tersebut mulai menumbuhkan ketertarikannya terhadap Indonesia. Ia juga menyadari bahwa nama keluarganya memiliki keterkaitan dengan masyarakat di Sumatra Utara.

Namun, saat itu Nainggolan sudah lebih dahulu membela Belgia. Ia juga menilai kondisi sepak bola Indonesia belum cukup menjanjikan pada periode tersebut, terlebih ketika kompetisi domestik menghadapi persoalan yang berujung pada penangguhan oleh FIFA akibat skandal pengaturan pertandingan.

Karena itulah, pilihan membela Belgia terasa lebih wajar baginya ketika masih muda. Baru setelah mengenal Indonesia secara langsung, ia menyadari ada banyak aspek yang dahulu tidak pernah dipertimbangkan.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian Nainggolan adalah besarnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sepak bola.

Ia menggambarkan bagaimana pertandingan Timnas Indonesia melawan negara seperti Vietnam atau Irak dapat menarik puluhan ribu penonton. Antusiasme tersebut menunjukkan besarnya ruang bagi pemain untuk mendapatkan perhatian publik.

Menurut Nainggolan, popularitas di Indonesia juga dapat membuka peluang di luar lapangan. Pesepak bola tidak hanya memperoleh penghasilan dari kontrak klub, tetapi juga berpotensi membangun citra dan menjalin kerja sama komersial dengan berbagai merek.

Ia menyinggung bagaimana sejumlah pemain dapat memperoleh dukungan sponsor dari merek-merek mewah, seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex.

Nainggolan menilai popularitas semacam itu bisa menjadi modal penting ketika seorang pemain mengakhiri karier profesionalnya.

Pengalaman dan pengenalan publik terhadap seorang pesepak bola dapat dimanfaatkan untuk membangun karier baru sebagai figur publik, termasuk di dunia hiburan dan televisi.

Ketertarikan Nainggolan terhadap Indonesia semakin kuat ketika ia kembali ke Tanah Air pada 2023. Setelah sempat bermain untuk SPAL di Italia, ia sebenarnya telah mempertimbangkan untuk pensiun dari sepak bola profesional.

Namun, undangan menjadi duta Piala Dunia U-17 2023 membuatnya kembali datang ke Indonesia. Setelah menikmati kunjungan tersebut, ia menerima tawaran untuk bermain di kompetisi domestik.

Nainggolan kemudian bergabung dengan Bhayangkara FC dengan kontrak selama enam bulan. Ia mengaku hanya ingin bermain di Jakarta atau Bali sebelum akhirnya memilih klub tersebut.

Selama memperkuat Bhayangkara FC, Nainggolan memperoleh bayaran sebesar 400.000 euro.

“Untuk kehidupan di sana, saya dibayar jauh di atas yang seharusnya,” katanya ketika membandingkan nilai kontrak dengan biaya hidup di Indonesia.

Ia mencontohkan harga seporsi besar nasi goreng yang menurut pengalamannya hanya sekitar dua euro. Selain persoalan penghasilan, ia juga menikmati makanan lokal, iklim tropis, dan kehidupan masyarakat Jakarta.

Nainggolan mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia. Ia melihat orang-orang dari berbagai latar belakang ekonomi dapat berkumpul dan menikmati makanan di tempat yang sama, termasuk di warung sederhana.

Pengalaman tersebut membuat Indonesia bukan lagi sekadar negara asal ayahnya, melainkan tempat yang memiliki kenangan personal dan profesional baginya.

Bersama Bhayangkara FC, ia mencatatkan 10 penampilan dengan torehan satu gol dan tiga assist. Masa baktinya berakhir pada Juni 2024 setelah kontraknya selesai dan klub tersebut mengalami degradasi.

Pengalaman itu membuatnya kembali memikirkan pilihan yang diambil pada awal karier. Jika dahulu ia lebih mengenal Indonesia dan memahami peluang yang tersedia, menurutnya, jalan yang ditempuh mungkin akan berbeda.

“Saya sebenarnya bisa memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain tim nasional Indonesia,” ungkap Nainggolan dalam wawancara tersebut. (saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Surabaya
Senin, 12 Oktober 2026
31o
Kurs