Pernyataan tersebut disampaikan Erick menyusul penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, serta insiden penyerangan terhadap suporter Persija di Tol Palikanci, Cirebon.
Erick menilai tindakan kekerasan tersebut telah mengarah pada tindak kriminal dan tidak bisa lagi dipandang sebagai bagian dari rivalitas antarsuporter. Ia menyoroti adanya oknum yang membawa benda tumpul dan merusak bus dalam insiden penyerangan terhadap rombongan tim EPA Persib.
“Mana ada menonton bola bawa alat pukulan, nah ini konteksnya kan artinya kan sudah ada pemikiran (untuk melakukan kekerasan). Ataupun yang sekarang oknum suporter yang satu lagi membalas, nah ini sama,” ujarnya.
Menurut Erick, tindakan balasan antarkelompok suporter juga tidak dapat dibenarkan. Ia meminta semua pihak menghentikan siklus kekerasan dan membangun komitmen bersama untuk menjaga keselamatan pemain, ofisial, serta pendukung klub.
PSSI, kata Erick, memberikan kesempatan kepada operator liga dan klub untuk menyepakati mekanisme yang menjamin keamanan pertandingan. Apabila kesepakatan tersebut tidak tercapai atau tidak dijalankan, PSSI siap mengambil langkah intervensi.
NOW ON AIR SSFM 100

