Selasa, 13 Oktober 2026

Suporter Kembali Terlibat Kekerasan, PSSI Pertimbangkan Sanksi Pengurangan Poin

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Anggota Polresta Batang ketika meminta keterangan dari para pemain dan offisial Persib Bandung U-18 setelah mengalami penyerangan di rest area KM-360 B Tol Batang-Pemalang Minggu (11/10/2026) malam. Foto: Humas Polresta Batang

PSSI membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi pengurangan poin kepada klub yang gagal menjaga suporternya agar tidak melakukan aksi kekerasan.

Ancaman tersebut disampaikan Erick Thohir Ketua Umum PSSI menyusul dua insiden penyerangan yang melibatkan oknum suporter sepak bola di Jawa Tengah dan Cirebon.

Erick mengatakan, PSSI akan mendorong penerapan sanksi tegas terhadap klub yang tidak mampu memastikan perilaku suporternya tetap tertib.

Namun, ia terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada klub dan operator liga untuk menyepakati langkah bersama dalam menjamin keamanan pertandingan.

“Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya (bisa saja mendapat) pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, ya, cuma, kami akan lakukan tindak tegas pastinya,” kata Erick dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Erick menyusul penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, serta insiden penyerangan terhadap suporter Persija di Tol Palikanci, Cirebon.

Erick menilai tindakan kekerasan tersebut telah mengarah pada tindak kriminal dan tidak bisa lagi dipandang sebagai bagian dari rivalitas antarsuporter. Ia menyoroti adanya oknum yang membawa benda tumpul dan merusak bus dalam insiden penyerangan terhadap rombongan tim EPA Persib.

“Mana ada menonton bola bawa alat pukulan, nah ini konteksnya kan artinya kan sudah ada pemikiran (untuk melakukan kekerasan). Ataupun yang sekarang oknum suporter yang satu lagi membalas, nah ini sama,” ujarnya.

Menurut Erick, tindakan balasan antarkelompok suporter juga tidak dapat dibenarkan. Ia meminta semua pihak menghentikan siklus kekerasan dan membangun komitmen bersama untuk menjaga keselamatan pemain, ofisial, serta pendukung klub.

PSSI, kata Erick, memberikan kesempatan kepada operator liga dan klub untuk menyepakati mekanisme yang menjamin keamanan pertandingan. Apabila kesepakatan tersebut tidak tercapai atau tidak dijalankan, PSSI siap mengambil langkah intervensi.

Salah satu kemungkinan yang disinggung Erick adalah kembali memberlakukan larangan bagi suporter tim tamu untuk menghadiri pertandingan tandang.

“Ya jangan-jangan tidak ada lagi suporter away lagi,” katanya.

Erick menjelaskan, komitmen menjaga keamanan pertandingan sebenarnya telah menjadi kesepakatan bersama antara operator liga dan klub sejak awal. Larangan suporter tandang juga telah berlangsung hampir empat tahun sebelum kehadiran pendukung tim tamu kembali diperbolehkan pada musim ini.

Kebijakan tersebut diharapkan memberikan efek jera sekaligus menciptakan situasi pertandingan yang lebih aman. Namun, menurut Erick, munculnya kembali insiden kekerasan setelah suporter tandang diizinkan hadir menjadi persoalan yang harus segera dievaluasi.

“Masa enggak kapok juga gitu. Nih, ini sudah dikasih (izin untuk suporter away) pada musim ini, baru ini pertama dikasih, massa kejadian lagi gitu,” ujarnya.

Meski demikian, Erick menegaskan tidak ingin menyalahkan satu pihak saja atas rangkaian peristiwa tersebut. Ia meminta klub, operator liga, dan seluruh kelompok suporter berkonsolidasi untuk memastikan komitmen keamanan benar-benar diterapkan. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Selasa, 13 Oktober 2026
29o
Kurs