Jumat, 29 Mei 2020

Antara Etika Politik Vs Nilai Kemanusiaan

Laporan oleh Dwi Yuli Handayani
Bagikan

Hampir satu bulan terakhir ini Indonesia dikepung berbagai bencana alam mulai banjir sampai tanah longsor. Kondisi ini tidak dilewatkan Caleg dan Parpol untuk berebut simpati dari masyarakat khususnya korban bencana alam. Ini disampaikan DR Muhamad Muzaki Pengamat politik FISIP Universitas Brawijaya Malang pada Radio Suara Surabaya.

“Saya kira menarik ini sekaligus memprihatinkan fenomena sosial politik yang terjadi di negara kita terkait dengan pencitraan dibalik bencana. Satu sisi masyarakat kita lagi prihatin, pada sisi lain partai yang memiliki para caleg ini yang justru melihat ini sebagai peluang bukan sebagai bentuk simpati yang secara murni kemanusiaan,” kata dia.

Menurutnya, itulah yang banyak disindir oleh para ahli sebagai adanya simulakra sebagai sesuatu yang absurd atau palsu tidak menunjukkan realitas yang sesungguhnya.

“Jadi kalau di agama diajarkan kalau mau bersimpati kepada orang, jangan lalu tangan kanan memberi tangan kiri mengetahui. Tapi sesungguhnya semua tangannya dikerahkan,” ujar dia.

Kondisi sosial politik dalam hal pencitraan Caleg dan Parpol yang marak sekarang ini apakah ada point positif dari sisi kemanusiannya? Kata Muzaki, dalam konteks kemanusiaan kita justru membaca teks politik yang manusiawi justru tidak demikian.

“Teks politik manusiawi itu seperti yang diajarkan ke kita oleh para khalifah kalau dalam cerita agamis itu justru kalau mereka mau melakukan sesuatu contohlah para pemimpin yang memang dekat dengan masyarakat,” ujar dia.

Jika perlu, lanjut dia, temuilah dan sentuhlah para korban secara manusiawi pada malam hari yang tidak diketahui banyak orang dan secara riil.

Aji mumpung memberi bantuan ke korban bencana alam dan sekaligus pencitraan dari Caleg dan Parpol apakah bisa menjadi contoh yang tepat untuk pendidikan politik yang baik bagi masyarakat?

“Saya kira tidak karena itu bukan contoh yang baik. Jadi dalam konteks siapa yang menyumbang dan siapa yang menyumbang yang tidak dibubuhi politik secara langsung itu kita mendapatkan sejarah politik yang bukan mendidik masyarakat. Justru itu membawa calon pemilih pada arus transaksional yang absurd,” kata dia.

Artinya bahwa sebegitu kemudian prihatin dengan bencana yang masih meliputi tanah air itu menjadi sesuatu yang artificial. Substansinya tidak ditangkap, aktor-aktor pemain politik mendapat keuntungan politik melalui pencitraan itu.

“Kemudian saya berpendapat betapa tidak manusiawinya mereka dan tidak memberikan pendidikan yang baik pada publik politik yang ada di tanah air,” katanya.

Muzaki menambahkan, ini sama halnya dengan kebiasaan politik lima tahunan yang dilakukan hanya jika ada kepentingan saja.” Kalau pas menuju politik saja biasanya ini marak, tapi kalau sudah selesai ya mereka terkesan menghilang begitu saja,” ujarnya. (gk/dwi/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Widya Qhodarum M.S

Potret NetterSelengkapnya

Banjir di Tambak Sawah

Pohon Tumbang di Exit Tol Dupak

Kepadatan di Pasar Wadungasri

Truk Muat Jeruk Terguling

Surabaya
Jumat, 29 Mei 2020
27o
Kurs