Sabtu, 29 Februari 2020

PMII Unjuk Rasa Tuntut Sanksi Tegas untuk Kepala SMAN 4 Surabaya

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ratusan massa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya berunjuk rasa di Kantor Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Selasa (11/2/2020). Foto: Istimewa.

Ratusan massa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya berunjuk rasa di Kantor Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Selasa (11/2/2020). Mereka minta Dindik Jatim memberi sanksi tegas terhadap Kepala SMAN 4 Surabaya.

Mereka menuntut Wahid Wahyudi Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur menindak tegas kepala sekolah SMAN 4 Surabaya yang menginisiasi sebuah kegiatan di dalam sekolah mengundang Gamal Albinsaid sebagai narasumber.

Alasannya, dr Gamal Albinsaid sudah mendeklarasikan diri maju dalam Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2020. Kegiatan yang melibatkan dirinya berpotensi membuat dunia pendidikan disusupi politik praktis.

Unjuk rasa berlangsung tertib dengan pengawasan dan pengamanan oleh sejumlah personel kepolisian di depan Kantor Dindik Jatim Jalan Genteng Kali Surabaya. Massa meminta pihak Dindik keluar untuk memberikan ketegasan.

Ramliyanto Sekretaris Dindik Jawa Timur menemui massa. Dia memastikan kepada massa PMII, kegiatan di SMAN 4 Surabaya, yang rencananya melibatkan Gamal Albinsaid sebagai narasumber, sudah dibatalkan.

“Dindik Jatim tetap di jalur netral dalam Pilkada serentak 2020. Kami sudah antisipasi. Setiap kepala cabang sekarang memantau seluruh sekolah di Jatim. Jika ada indikasi sekolah dimanfaatkan oknum tertentu, kepala cabang dinas punya kewenangan untuk membatalkan kegiatan itu,” katanya.

Perlu diketahui, PMII awalnya mengagendakan aksi unjuk rasa mengangkat tiga tuntutan evaluasi kinerja pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah di Jawa Timur.

Tiga hari lalu, tersebar pamflet seruan aksi unjuk rasa PMII mengangkat tema evaluasi 100 hari kinerja presiden, setahun pemerintahan Khofifah-Emil, dan menolak omnibus law, di media sosial.

Nurul Haqqi Ketua PC PMII Surabaya mengatakan alasan perubahan tema aksi ini. Tuntutan kali ini adalah hasil kajian dan diskusi yang sudah dilakukan seluruh elemen PMII Surabaya selama tiga hari.

“Jadi kemarin itu kami melakukan kajian selama tiga hari berturut-turut untuk menentukan tuntutan aksi. Pamflet yang menyebar itu hanya pamflet pancingan untuk teman-teman melakukan kajian selama tiga hari,” katanya.

Rapat finalisasi penentuan tuntutan berlangsung Senin (10/2/2020) malam kemarin. PMII akhirnya memutuskan, tema dunia pendidikan yang bersih dari politik praktis yang harus mereka angkat hari ini.

Haqqi memastikan, tema lain yang awalnya tersebar dalam pamflet di media sosial, akan tetap diangkat dalam aksi-aksi berikutnya di kemudian hari. PMII sudah merancang rencana aksi unjuk rasa lain untuk beberapa hari ke depan.(den/bid/ipg)

Potret NetterSelengkapnya

Banjir di Pakal Sumberan Masuk Rumah Warga

Banjir Kandangan

Banjir di kawasan Greges dekat TL Simpang 3 Margomulyo

Genangan di Jln. Kapasari

Surabaya
Sabtu, 29 Februari 2020
28o
Kurs