Jumat, 4 Desember 2020

Janji Eri Cahyadi Menambah BOPDA untuk Subsidi Sekolah Swasta

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Eri Cahyadi Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 1 usai pertemuan dengan sejumlah Kepala Sekolah SMP Swasta di Surabaya. Foto: Istimewa.

Eri Cahyadi Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 1 tak ingin ketimpangan antara sekolah negeri dan swasta di Kota Surabaya semakin melebar. Bila terpilih dalam Pilkada Surabaya 9 Desember 2020, Eri mengaku tidak akan pilih kasih dalam men-support sekolah negeri dan swasta.

“Bagaimanapun, anak-anak kita yang sedang bersekolah saat ini adalah masa depan Surabaya. Maka pemisahan antara negeri dan swasta hanya akan mengakibatkan ketimpangan kualitas SDM Surabaya di masa depan. Maka kita antisipasi jangan sampai itu terjadi,” kata Eri Cahyadi saat bertemu Kepala Sekolah SMP swasta se-Surabaya di Nur Pacific, Jl Adityawarman, Jumat (9/10/2020).

Eri menceritakan, saat dia masih menjabat kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, dia sudah merintis pemberian tunjangan untuk guru-guru swasta yang belum menerima tunjangan profesi dari pemerintah pusat. Dengan minimal dua tahun menjalani profesi sebagai guru, Pemkot Surabaya berencana memberi senilai Rp 2 juta per tahun.

“Kualitas guru juga harus disamakan antara negeri dan swasta, ada sertifikasi. Tapi para guru juga harus mudah mengurusi semuanya, berkas dan lain-lain. Nantinya akan ada aplikasi khusus untuk itu. Kalau kualitas guru naik, pasti tunjangan meningkat,” tambahnya.

Mekanismenya, kata Eri Cahyadi, dengan menambah Bopda alias Bantuan Operasional Pendidikan Daerah. Dengan penambahan Bopda, Pemkot Surabaya akan mampu mensubsidi sekolah swasta. Tak hanya pada SDM tapi juga pada fasilitas belajar mengajar.

“Jadi misalnya ada butuh bantuan komputer, lab, biar sekolahnya semakin berkualitas, sekolah swasta per area bisa kumpul, menentukan sekolah mana yang diprioritaskan mendapat bantuan terlebih dulu. Nantinya pasti akan merata. Jangan sampai sekolah negeri punya komputer, yang swasta tidak. Swasta tak boleh dianaktirikan, harus imbang,” kata Eri Cahyadi.

Eri Cahyadi juga mengusulkan sistem baru pemberian beasiswa dengan skema anak asuh dengan orang tua asuh dari kalangan pengusaha. Setiap pengusaha Surabaya minimal memiliki lima anak asuh. Dengan jumlah pengusaha di Kota Pahlawan yang begitu banyak, kata Eri, tidak akan ada lagi anak putus sekolah.

Sementara itu Galuh Sukarno salah seorang perwakilan guru dari SMP Dharma Wanita Surabaya menyatakan, visi dan misi Eri mampu menyentuh hati para guru di Surabaya. Ini karena visi misinya tak hanya berputar pada janji-janji, tapi sebagian besar sudah dilakukan dan dirintis Eri saat membantu Risma di Pemkot Surabaya.

“Yang diharapkan para guru adalah kemudahan, kelayakan, dan kesejahteraan hidup. Pak Eri peduli profesi kami, bisa jadi fasilitator, penengah, dan tak ragu memberi bantuan. Meskipun sekolah swasta, tapi Pak Eri tak pernah pilih kasih. Karena menurutnya semuanya sama, untuk kemajuan pendidikan Surabaya,” katanya. (bid/dfn)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah, 12 PMK Di lokasi

Kecelakaan L300 Tabrak Pembatas Tol Sumo

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Surabaya
Jumat, 4 Desember 2020
27o
Kurs