Jumat, 25 Juni 2021

Bulan Bung Karno, Saatnya Menakar Nasionalisme dan Nilai Patriotisme

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Sarasehan Nasional Kebangsaan dalam jaringan (daring/online) yang digelar Untag Surabaya untuk memperingati Bulan Bung Karno dan Hari Lahir Pancasila, Rabu (9/6/2021). Foto: Totok suarasursbaya.net

Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memperingati Bulan Bung Karno dan Hari Lahir Pancasila dengan menggelar Sarasehan Nasional Kebangsaan secara dalam jaringan (daring/online), Rabu (9/6/2021).

Sarasehan Nasional Kebangsaan itu mengambil tema “Revitalisasi Jiwa Patriotik dan Nasionalisme Suatu Gerakan Memperkokoh Wawasan Kebangsaan bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara.”

Mulyanto Nugroho Rektor Untag Surabaya; Djarot Syaiful Hidayat Anggota DPR RI; Prof. Dr. Hariyono Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP); serta Subekti Pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya menjadi pemateri dalam sarasehan itu.

Mulyanto Nugroho Rektor Untag mengatakan, nilai patriotisme Pancasila perlu tetap diberikan pada milenial dan generasi muda bangsa sebagai bagian penanaman nilai luhur menjaga kesatuan dan persatuan Republik Indonesia di masa depan dengan segala bentuk tantangannya.

“Tantangan kondisi Indonesia saat ini adalah banyak nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika yang tercabik-cabik. Seperti adanya intoleransi, radikalisme dan terorisme, korupsi hingga kesenjangan sosial ekonomi. Adalah tugas kita untuk merevitalisasi jiwa patriotik dan nasionalisme,” katanya.

Menurutnya, revitalisasi jiwa patriotik dapat diwujudkan dengan penguatan wawasan kebangsaan dan penerapannya pada sikap seluruh warga bangsa. Dia pun menekankan pentingnya revitalisasi nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa.

Djarot Syaiful Hidayat Anggota DPR RI melalui pemaparannya mengungkapkan, perlu adanya pengembalian jiwa patriotik dan nasionalisme, terutama kepada para generasi muda bangsa.

Dia mengambil contoh figur bung Karno dengan seluruh sikap dan tindakan cinta tanah air berdasarkan nilai theisme, sosialisme, dan nasionalisme.

Petinggi PDI Perjuangan itu mengakui, perubahan dan kemajuan jaman berdampak negatif pada berbagai aspek. Baik politik, ekonomi, hingga budaya.

Hal ini menurutnya terjadi karena nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, wujud, dan jati diri bangsa serta Trisakti mulai terlupakan. Dia sayangkan banyaknya generasi milenial yang tidak lagi mengenal sejarah Indonesia.

Karena itu dia berharap dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan seperti sekolah, nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme agar selalu dimasukkan.

Misalnya dengan pengadaan program volunteer atau sukarelawan. Adanya kegiatan seperti ini, lanjut Djarot, diharapkan menjadi wadah bagi generasi milenial mempelajari nilai-nilai Pancasila.

“Adanya empati saat membantu masyarakat, itu sudah merupakan nilai Pancasila. Kemudian bergaul dengan berbagai macam suku, agama dan ras, itu sudah masuk nilai toleransi. Hal yang seperti ini perlu dikembangkan dengan konteks kekinian, ” ujar Djarot.

Seharusnya, kata dia, kemajuan teknologi bisa menjadi wadah revitalisasi jiwa patriotik dan nasionalisme pemuda dengan adanya konten-konten yang diisi dengan nilai-nilai nasionalis dan kearifan Indonesia.

Senada dengan apa yang disampaikan dua tokoh sebelumnya, Prof. Dr. Hariyono Wakil Kepala BPIP menyampaikan, tantangan dan ancaman dari kemajuan suatu peradaban tidak bisa terelakkan.

Ideologi Pancasila sebagai pedoman bangsa, menurutnya, yang akan menjadi penuntun dalam menghadapi seluruh persoalan yang ada.

Bung Karno melalui ideologi Pancasila tidak hanya mengajak masyarakat Indonesia untuk reaktif dan bersikap defensif terhadap ancaman dan tantangan yang ada, tapi mendorong semua orang berpikir kreatif, konstruktif, dan progresif.

“Jangan sampai kita hanya larut dalam reaksi sampai lupa pada misi mulia ideologi bangsa kita,” papar Hariyono.

Sementara J. Subekti Pengurus YPTA yang menjadi pembicara terakhir dalam sarasehan via aplikasi zoom itu menjelaskan, dalam menghadapi degradasi pemahaman terhadap nasionalisme di Indonesia yang multietnis dan multikultur, perlu adanya revitalisasi semangat gotong royong dan kolaborasi dalam membangun lagi jiwa Pancasila dan nasionalisme.

Dalam proses revitalisasi ini diperlukan aksi nyata, misalnya “pembumian Pancasila”. Hal ini bertujuan agar Pancasila tidak hanya untuk berteriak, melainkan untuk bertindak.

Dia juga mengajak tokoh masyarakat, tokoh agama hingga tenaga pendidik untuk memberikan ketauladanan hidup normatif sesuai Pancasila dan UUD 1945.

“Mari memberi tauladan bagaimana kita bersikap dan berbicara sebagai tokoh panutan. Jangan sampai malah memecah belah didalam institusi, di dalam bangsa,” kata Subekti.(tok/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran di Tanjungsari

Kemacetan di Tol Waru arah Dupak

Gerhana Bulan Total di Waru

Surabaya
Jumat, 25 Juni 2021
30o
Kurs