Rabu, 17 Agustus 2022

Dinamika Internal Partai Golkar dan Rapuhnya KIB Bisa Menghambat Upaya Pemenangan Pemilu 2024

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Foto: Istimewa

Cecep Hidayat pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) menilai, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) masih belum solid.

Menurutnya, koalisi yang terdiri dari Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cenderung masih menunggu situasi dan kondisi politik ke depan.

Sementara, dinamika internal Partai Golkar masih sangat kuat. Hal itu berpotensi mengancam masa depan kepemimpinan Airlangga Hartarto sebagai ketua umum partai berlambang pohon beringin.

“Jadi, KIB sendiri terlihat masih belum solid. Mereka masih wait and see kecenderungan politik yang terjadi ke depan,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (3/8/2022).

Partai Golkar berencana mengajukan Airlangga Hartarto sebagai calon presiden pada Pilpres 2024.

Walau begitu, Cecep melihat Golkar bisa saja mengubah rencana jelang pendaftaran capres-cawapres. Di sisi lain, PAN menyebut semua ketum umum partai di KIB punya peluang sama sebagai capres/cawapres.

Kalau Golkar akan mengambil banyak porsi dalam penentuan calon yang diusung KIB dalam Pilpres 2024, Cecep menilai wajar karena Golkat partai anggota koalisi dengan suara tertinggi pada Pemilu 2019.

“Jadi, kalau sekarang muncul nama capres dari tiga partai itu, peraih suara tertinggi kan Golkar. Mau nggak mau partai yang lebih banyak suaranya yang mengajukan calon,” tambahnya.

Senada, Ahmad Khoirul Umam pengamat politik dari Universitas Paramadina bilang KIB belum solid, dan bisa saja bubar di tengah jalan.

“Golkar merupakan partai politik yang dihuni berbagai macam gerbong kekuatan politik yang tidak tunggal. Akibatnya, masing-masing kekuatan akan saling mengintai dan saling serang,” ucapnya.

Umam mengambil contoh pernyataan Bambang Soesatyo Wakil Ketua Umum Partai Golkar mengenai Airlangga Hartarto capres pilihan partainya merupakan strategi untuk mengunci Airlangga.

“Statemen Bambang Soesatyo tentang pencapresan Airlangga merupakan strategi untuk mengunci langkah Airlangga yang sebenarnya sedang menjalankan time buying strategy untuk menantikan dinamika hubungan Istana Presiden dan PDI Perjuangan dalam mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kalau pencapresan Airlangga dipaksakan itu akan berdampak pada soliditas KIB. Katena, partai papan tengah seperti PAN dan PPP cenderung tidak berani memainkan strategi politik yang spekulatif.

“PAN dan PPP cenderung akan berpihak pada koalisi yang memiliki kemungkinan menang lebih besar,” imbuhnya.

Kalau KIB tidak memiliki capres-cawapres yang kompetitif, PAN dan PPP selaku partai papan tengah tidak akan mendapatkan coat-tail effect yang optimal, dan berpotensi membuat mereka terdegradasi dari parliamentary threshold 4 persen.

“Kalau Airlangga salah langkah, hal itu akan menjadi celah bagi Bambang Soesatyo menggeser kepemimpinan Airlangga. Karena itu, kubu Airlangga harus mengantisipasinya. Sekarang tinggal bagaimana Airlangga mempergunakan kepemimpinannya untuk menjaga stabilitas internal partainya. Di saat yang sama, Airlangga juga harus mematangkan strategi politiknya, supaya tidak salah langkah. Kalau sampai salah langkah, ada kekuatan lain yang sudah menunggu untuk menggoyang kepemimpinannya,” pungkas Umam.(rid/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Rabu, 17 Agustus 2022
26o
Kurs