Rabu, 1 Februari 2023

Pengamat Menilai Dinamika Penentuan Capres-Cawapres KIB Hal yang Wajar Terjadi

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Petinggi parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) melakukan pertemuan di Jakarta. Foto: Istimewa

Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) memberi sinyal bakal memprioritaskan kader internal yang akan dimajukan sebagai calon presiden (capres).

Zulkifli Hasan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) mengatakan, Airlangga Hartarto Ketua Umum Partai Golkar layak untuk maju sebagai calon presiden dari KIB.

Walau ketum parpol KIB cenderung mendorong Airlangga, tapi banyak di antara kader PAN dan PPP yang justru condong pada calon eksternal seperti Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan.

Arif Susanto Analis politik dari Exposit Strategic menilai, dinamika pengajuan nama dalam KIB masih dalam kategori normal.

Menurutnya, masih ada cukup waktu untuk memastikan nama yang bakal diusung koalisi yang beranggotakan Golkar, PPP, dan PAN sebagai calon presiden pafa Pemilu 2024.

“Saya pikir masih normal saja. Perjalanannya masih agak panjang, masih sampai akhir depan,” ujarnya di Jakarta, Senin (5/12/2022).

Dinamika dalam pembahasan nama capres KIB, lanjut Arif, dapat dinilai sebagai upaya untuk membangun posisi tawar. Pertama, posisi tawar dari nama figur atau kandidat, seperti Anies Baswedan atau Ganjar Pranowo. Selanjutnya adalah posisi tawar dari faksi yang mengajukan.

“Kedua, posisi tawar pihak yang mengajukan nama itu sendiri. Bisa jadi dari relawan, bisa jadi dari faksi-faksi tertentu dalam partai yang bersangkutan. Harapannya kan siapa pun nama yang muncul, mereka mendapatkan bagian dari kue kekuasaan yang diharapkan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Arif yakin perbedaan suara tersebut juga tidak akan berlanjut membesar hingga menjadi konflik internal. Perbedaan nama figur yang muncul itu menunjukkan adanya faksi-faksi dalam KIB yang mempunyai pilihan lain.

“Kalau menimbulkan riak, mungkin iya. Tapi, saya kira terlalu jauh kalau riak itu sampai mengakibatkan terjadinya konflik internal. Sampai hari ini demikian,” tambahnya.

Langkah politk KIB, sambung Arif, akan lebih masuk akal mengisi posisi calon wakil presiden (cawapres).

“Sejauh ini cukup rasional untuk mengajukan satu di antara tiga nama itu, Ganjar, Anies, Prabowo. Di luar itu saya kira tipis kemungkinannya. Setidaknya langkah yang realistis adalah membidik cawapres,” pungkasnya.

Sementara itu, Yusak Farchan Pengamat Politik dari Citra Institute mengatakan, dinamika penentuan capres terjadi karena memang belum ada sosok yang kuat di KIB.

“Sejak awal dibentuk, problem utama KIB kan memang tidak punya stok capres dari internal parpol pendukung koalisi yang elektabilitasnya tinggi,” ucapnya.

Tapi, kalau dibandingkan dengan Ketum PPP dan PAN, Yusak mengatakan Ketum Airlangga yang paling mungkin diusung sebagai calon presiden atau calon wakil presiden.

“Dari jumlah suara atau kursi dan infrastruktur politik, memang Pak Airlangga yang paling layak dan berpeluang diusung dibanding ketua umum PAN dan PPP. Tapi, munculnya nama-nama capres seperti Ganjar dan Anies semakin membuka peluang bagi KIB untuk mengusung capres dari luar,” jelas Yusak.

Munculnya nama Ganjar dan Anies di internal PAN dan PPP, lanjut Yusak, tentu berpengaruh pada opsi pencapresan Pak Airlangga sebagai capres KIB.

Kalau koalisi diletakkan dalam konteks parpol sebagai saluran rekrutmen kepemimpinan politik, maka KIB sah-sah saja mendorong capres dari luar koalisi.

“Psikologi bertarung kan memang bagaimana bisa menang dan elektabilitas capres tetap menjadi variabel penting yang tidak bisa diabaikan,” sebutnya.

Kalau benar KIB mengusung capres dari luar, selalu ada opsi untuk Airlangga sebagai pendamping (cawapres).

“Saya kira masih ada opsi bagi Pak Airlangga untuk membangun bargaining sebagai cawapres. Golkar saya kira akan menyiapkan berbagai opsi terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi,” timpalnya.

Di luar sosok capres, KIB disebut memiliki program yang baik. Sejak awal dibentuk, KIB adalah bagaimana membangun koalisi programatik untuk melanjutkan program-program pemerintahan Pak Jokowi.

KIB mengklaim sebagai barisan yang paling siap meneruskan agenda pembangunan Jokowi terutama program-program ekonomi. Maka dari itu, penentuan capres-cawapres KIB akan mengikuti perkembangan dinamika politik.(rid/ipg)

Berita Terkait