Minggu, 25 Oktober 2026

Denny Cagur: Merah Muda Fest 2026 Ajak Anak Muda Ubah Euforia Jadi Aksi Kemanusiaan

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Denny Cagur (paling kiri) Ketua Panitia Nasional Merah Muda Fest 2026 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/10/2026). Foto: istimewa

Merah Muda Fest 2026 tidak hanya menjadi panggung perayaan semangat kepemudaan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan kepedulian sosial.

Denny Cagur Ketua Panitia Nasional Merah Muda Fest 2026 menegaskan bahwa kegembiraan dalam sebuah festival harus mampu mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melakukan aksi nyata bagi sesama.

Pesan tersebut disampaikan dalam penyelenggaraan Merah Muda Fest 2026 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/10/2026).

Mengusung tema “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan”, festival ini digelar untuk memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda.

“Merah Muda Fest bukan sekadar pesta. Kami ingin perayaan ini menjadi ruang yang menggerakkan hati dan pikiran anak muda.

Mereka tidak hanya datang untuk menikmati acara, tetapi juga membawa pulang semangat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar Denny.

Menurut Denny, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 perlu diterjemahkan dalam konteks masa kini. Salah satunya melalui kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan keterlibatan aktif generasi muda dalam menjawab berbagai tantangan sosial.

Merah Muda Fest merupakan program tahunan DPP PDI Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga. Penyelenggaraan tahun ini menjadi edisi kedua setelah sebelumnya digelar di Yogyakarta pada 2025.

Komitmen kemanusiaan dalam festival tersebut diwujudkan melalui tiket solidaritas seharga Rp15.000. Bekerja sama dengan Yayasan Mega Gotong Royong, seluruh hasil penjualan tiket serta donasi pengunjung disalurkan untuk mendukung pemulihan dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Skema ini menjadi salah satu cara panitia menghubungkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan hiburan dengan kontribusi sosial yang lebih luas.

Denny berharap, kegiatan semacam ini dapat memperkuat pemahaman bahwa aksi kemanusiaan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kepedulian dapat tumbuh dari keterlibatan sederhana yang dilakukan bersama-sama.

“Gotong royong tidak harus menunggu kita memiliki banyak hal. Kepedulian bisa dimulai dari langkah kecil, dari kemauan untuk terlibat dan berbagi. Yang terpenting, semangat itu tidak berhenti ketika acara selesai,” katanya.

Selain membawa pesan kemanusiaan, Merah Muda Fest 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan sejarah, kebugaran, edukasi, dan kreativitas.

Salah satu agenda utama adalah napak tilas Kongres Pemuda II dengan rute sekitar tiga kilometer. Perjalanan dimulai dari Museum Sumpah Pemuda, melewati Gereja Katedral, dan berakhir di Taman Lapangan Banteng.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak mengenang proses lahirnya Sumpah Pemuda sekaligus memahami kontribusi tokoh-tokoh penting, seperti Mohammad Yamin, Sugondo Djojopuspito, dan Tabrani, dalam perjalanan sejarah persatuan Indonesia.

Pemilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi festival juga memiliki nilai historis. Kawasan tersebut dahulu menjadi lokasi gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), tempat pembukaan Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928.

Di luar kegiatan sejarah, festival turut menghadirkan senam bersama yang diikuti sekitar 1.000 peserta, bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta lokakarya bahasa isyarat dan daur ulang sampah.

Panggung hiburan diisi pertunjukan seni, stand-up comedy, dan musik. Sejumlah agenda lainnya meliputi diskusi tentang gerakan anak muda untuk kemanusiaan, doa bersama bagi keselamatan bangsa dan negara, serta penghormatan kepada maestro musik Indonesia almarhum Guruh Soekarnoputra.

Festival ini juga menghadirkan penampilan Souljah dan Pasmingbased untuk menyemarakkan suasana acara.

Denny mengatakan, semangat yang dibangun melalui Merah Muda Fest akan dilanjutkan dalam agenda Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2026.

Forum tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan generasi muda dengan berbagai tokoh untuk bertukar gagasan, membicarakan persoalan kebangsaan, serta mendiskusikan arah masa depan Indonesia.

Bagi Denny, keterlibatan anak muda tidak cukup hanya diwujudkan melalui perayaan momentum bersejarah. Generasi muda juga perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan gagasan, berdialog lintas generasi, dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

“Kami ingin generasi muda Indonesia menjadi generasi yang bukan hanya punya harapan, tetapi juga berani bergerak dan mengambil bagian. Masa depan tidak cukup hanya dirayakan. Masa depan harus dibicarakan, dipikirkan, dan diperjuangkan bersama,” tegasnya.

Melalui Merah Muda Fest 2026 dan Public Pulse 28, panitia berharap semangat Sumpah Pemuda tetap relevan bagi generasi masa kini, tidak hanya sebagai ingatan sejarah, tetapi juga sebagai dorongan untuk memperkuat persatuan dan solidaritas.(faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Minggu, 25 Oktober 2026
28o
Kurs