Rocky Gerung akademisi mengkritisi wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Menurutnya, mekanisme tersebut berpotensi menghilangkan ruang debat gagasan dan uji kapasitas calon pemimpin.
“Apakah forum DRPD bisa dipakai untuk debat semacam ini? Jadi calon pemimpin nanti itu sekadar bawa amplop, taruh pada Ketua DPRD, selesai problem,” kata Rocky dalam Spirit of Humanity and Human Solidarity di Balai Pemuda, Surabaya, pada Sabtu (17/1/2026).
Padahal, kata Rocky, masyarakat ingin menguji kemampuan berpikir calon-calon pemimpin daerah dalam kontestasi Pilkada.
“Karena anak-anak muda ini ingin kompetisi habis-habisan dengan kemampuan argumen,” ucapnya.
Rocky menegaskan bahwa demokrasi memang mahal, tapi jangan dibuat murah dengan menjual murah kedaulatan rakyat.
“Kalau pemerintah bilang pemilu mahal, terus dibikin murah dengan dipilih DPRD, ya memang murah, tapi kedaulatan rakyat justru ikut murah karana akan dinilai oleh tebalnya amplop,” tuturnya.
Saat ini, lanjut Rocky, penting untuk memperkuat solidaritas untuk menghalangi arogansi kekuatan dalam wacana tersebut.
Rocky menekankan pentingnya human solidarity dan principle humanity, karena dua poin itu yang menghasilkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Bahkan Bung Karno bilang solidaritas manusia itu bukan sekadar himbauan untuk merdeka, tapi himbauan untuk menjaga perdamaian dunia dan itu yang dihasilkan 1955 di Konferensi Asia-Afrika,” paparnya.
Rocky menjelaskan, spirit of humanity berarti spirit untuk mengembalikan sesuatu yang ada pada diri, yaitu kemampuan untuk peka pada sesama manusia. Sehingga menurutnya, kegiatan seperti publik lecturer harus diperbanyak untuk berinvestasi pada bidang humanity.
Saat ini, kata Rocky, ketika bicara tentang anak-anak muda dunia, mereka menyatakan kepeduliannya pada spirit of humanity, berbicara tentang global security karena adanya problem Iran, Venezuela, hingga Nepal. Selain itu, anak-anak muda dunia sekarang juga bicara tentang environmental ethics karena nasib bumi yang harus dirawat untuk lebih baik.
Semua hal itu menurutnya harus di-breakdown agar spirit of humanity dan human solidarity bisa diperkuat. Namun ia menyayangkan, karena muncul wacana Pilkada dipilih melalui DPRD.
“Upaya kita untuk masuk dalam peradaban politik, yang memungkinkan kita ucapkan human solidarity dibatalkan dengan rencana untuk memilih kepala daerah hanya melalui forum DPRD,” ujarnya.
Kendati demikian, ia percaya bahwa forum seperti Spirit of Humanity and Human Solidarity di Surabaya jika diperbanyak bisa menghasilkan Indonesia yang bermoral.
“Saya percaya forum ini akan menghasilkan keinginan luhur, untuk mulai mengatakan bahwa kami Surabaya bisa menghasilkan kembali Indonesia yang bermoral, Indonesia yang berpikir,” pungkasnya.(ris/kir/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
