Kamis, 25 Februari 2021

Buku “Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini” Tentang Melawan Kepasrahan pada Pandemi

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Wina Bojonegoro saat memberikan sambutan pada pelunxuran buku Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini, Minggu (22/11/2020) secara daring. Foto: Totok suarasurabaya.net

Masa pandemi Covid-19 tak seharusnya dibiarkan tanpa makna. Dan buku “Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini” adalah perlawanan pada kepasrahan di masa pandemi.

Wina Bojonegoro dengan bendera Padmedia publisher kemudian menelorkan ide. Dua hal: kelas menulis cerpen via whattsapp dan parade baca cerpen 100 hari via instagram. Semuanya berbasis sosial media yang tidak berbiaya.

Apa yang bisa dilakukan agar orang-orang yang terpaksa diam di rumah itu betah? Dua hal di atas adalah salah dua alternatif sesuai bidang yang digeluti Wina Bojonegoro.

Kemudian selama 10 minggu kelas digelar, menghadirkan beberapa narasumber yang juga rela tidak dibayar antara lain: Damhuri Muhammad, Yusri Fajar, Mashdar Zainal, ken Hanggara, Endri Kurniawati dan Wina Bojonegoro. Nama-nama tersebut adalah para sastrawan nasional kecuali Endri yang merupakan jurnalis. Tugasnya mengajar riset sebagai sebuah kekuatan cerita.

Proses kelas yang selalu mengerjakan tugas menulis dan membaca, kemudian mengikuti kelas pengajaran seminggu sekali, membuat para peserta sibuk. Tentu saja sibuk memikirkan menulis apa, bagaimana memilih diksi dan frasa, mencari judul yang tidak biasa, membuat pembukaan yang memikat pembaca, mencari penutup yang tidak terlupakan dan sebagainya. Itu semua masih harus ditambah dengan pendalaman materi berupa revisi naskah.

Setelah naskah-naskah itu dirasa cukup, naskah akan ditelaah alias dibantai beramai-ramai di wa group. Selain belajar menulis peserta juga dilatih memiliki daya kritis terhadap suatu karya. Mampu menulis, mampu membaca adalah target yang dijadikan standar Wina Bojonegoro dalam mengemban kelas menulis daring angkatan pertama ini.

Damhuri Muhammad sebagai salah satu narasumber sempat merasa kaget dengan hasil karya kelas menulis angkatan pertama ini. Beberapa karya di dalam buku ini di atas rata-rata kualitasnya. Bahkan layak masuk ke media besar.

Pun disampaikan Mashdar Zainal penulis yang tinggal di Kota Malang ini, bahwa karya-karya pada Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini sangat menarik.

“Hujan pada karya sastra paling sering diidentikkan dengan yang mellow. Rindu, menunggu, seperti itulah. Tetapi pada buku ini tidak. Hujan diterjemahkan berbeda. Ini yang menarik. Meskipun ditulis oleh mereka yang bukan berprofesi sebagai penulis, kecuali Mbak Wina, buku ini isinya luar biasa, ” terang Mashdar Zainal, Minggu (22/11/2020).

Wina Bojonegoro sebagai kepala sekolah pun merasa takjub, tidak menyangka hasil kelas ini demikian luar biasa, out of the box ide-ide penulisnya. Ternyata di tengah kondisi pandemi, aktivitas dasar kesusasteraan itu benar-benar dahsyat hasilnya.

Para peserta yang terdiri dari peminat belajar dari berbagai provinsi, kemudian mendapat sertifikat kelas, dan mendapat kesempatan karyanya dibukukan. Banyak yang merasa bahagia akhirnya mampu menulis fiksi meski berdarah-darah pada awalnya.

Dari total 28 peserta akhirnya terjaring 16 naskah ditambah 1 naskah ibu kepala sekolah, yaitu Wina Bojonegoro. Kreativitas 16 perempuan dan satu lelaki ini dilahirkan dalam sebuah buku: Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini. Sekaligus bukti melawan kepasrahan di masa pandemi Covid-19 ini. (tok)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Sungai di Jemursari

Truk Tabrak Rumah di Purwosari

Penambalan Jalan di Kletek

Operasi Sidoresik di Gedangan

Surabaya
Kamis, 25 Februari 2021
24o
Kurs