Senin, 25 Oktober 2021
10 Ledakan Ekonomi

Ledakan Kreativitas, Ekonomi Donat, dan Keterbukaan Sumber Gagasan

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan

Pada dasarnya setiap krisis selalu mendorong manusia menciptakan hal-hal baru. Karena pada saat itu muncul yang namanya sense of urgency.

Ada dorongan urgent: karena seseorang hampir mati, mengalami kesulitan penjualan, pendapatan menurun, kualitas hidup juga menurun.

Belum lagi bila seorang pengusaha tidak bisa menggaji karyawannya, PHK yang sewaktu-waktu bisa terjadi, juga ancaman bagi keberadaan pegawai atau pelaksana di suatu institusi.

“Oleh karena itu maka biasanya dalam situasi krisis, ada dorongan kuat untuk melakukan kreativitas,” kata Prof. Rhenald Kasali Pendiri Rumah Perubahan.

Pendiri Program Doktor Ilmu Strategi Fakultas Ekonomi UI itu mengatakan, faktor-faktor itu yang mendorong terjadinya ledakan kreativitas.

Ledakan kreativitas ini merupakan salah satu bagian dari 10 ledakan ekonomi, yang menurutnya, saat ini tengah terjadi di dunia, termasuk di Indonesia.

“Saya contohkan perang dunia I dan II. Kita bisa lihat kreativitas itu adanya di dunia militer dan mungkin anda yang pernah membaca sejarah, pernah tahu ada rombongan scientist yang berangkat dari Eropa menuju Amerika Serikat. Kemudian mereka ditampung Presiden Roosevelt. Lalu Presiden Roosevelt membentuk office of scientific research and development,” ujarnya.

Tiba-tiba saja, kata dia, para ilmuwan itu menjadi sangat kreatif dan menciptakan teknologi-teknologi baru. Salah satu yang dikenal adalah bom atom.

Bom atom lahir di masa krisis, ketika para ilmuwan itu datang membujuk presiden bisa mewujudkan penelitian untuk menciptakan sesuatu.

“Tidak hanya bom atom, tetapi juga radar. Busi. Juga obat-obatan antibiotik. Seperti penisilin itu diciptakan di masa perang. Para scientist menjadi kreatif, juga militer menjadi lebih kreatif. Dan akhirnya menciptakan produk-produk baru yang kemudian dikontrakkan pada universitas atau perusahaan untuk menjadi pelaksana,” katanya.

Nah, ujar Prof. Rhenald, dalam Covid-19 ini kreativitas juga terjadi di seluruh dunia. Begitu pandemi menyerang, banyak rumah makan yang tidak bisa berjualan di gedung-gedung mal, akhirnya mereka menabur spanduk di pinggir jalan.

“Mereka berjualan di pinggir jalan, karena ada sense of urgency. Dan yang lebih menarik lagi, akhirnya mereka menemukan suatu cara menghadapi ekonomi baru di kota-kota besar, yang menjadi seperti sebuah donat,” katanya.

Ekonomi Donat

Donat itu di tengah-tengahnya berlubang, kata Prof. Rhenald. Kosong. Sedangkan di pinggirnya gemuk. Ekonomi donat di masa pandemi, kata dia, menandakan bahwa kehidupan ekonomi di tengah kota bergeser ke daerah pinggiran.

“Karyawan melakukan WFH, LFH, dan sebagainya. Ekonomi ada di sana, dan yang menarik adalah para pemilik rumah makan kemudian tidak membuka restoran, karena restoran juga memang tidak bisa menerima pengunjung. Akhirnya mereka membuat dapur. Jadi sekarang tendensinya adalah membuka kitchen,” ujarnya.

Di Jakarta saja, menurut data yang dia dapat, diketahui ada sebanyak 70 lokasi baru cloud kitchen. Ya, istilah cloud kitchen yang terdengar seperti cloud computer itu sempat muncul dan dikenal luas.

“Dan ini didominasi beberapa kelompok, misalnya Yummy Kitchen, Grab Kitchen, Dapur Bersama, Go Food dan lain sebagainya. Jadi yang mereka perlukan adalah dapur. Dapur itulah yang mereka butuhkan untuk membuat produk-produk yang semakin dekat dengan pelanggan. Nah, sekarang, menjadi tendensi orang tidak mau buka restoran tapi membuka dapur,” katanya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu juga menyampaikan data penulusuran di google untuk beberapa kata kunci yang meningkat drastis di masa pembatasan kegiatan masyarakat.

Drive thru naik 140 persen, “makan di mobil” naik 35 persen, “pengeluaran digital konsumen untuk pemesanan makanan online” naik 97 persen. jadi memang terdapat dorongan. Ada urgency di sana,” katanya.

Fenomena menarik, menurutnya, Chef yang biasa bekerja di rumah makan atau yang sudah punya nama di televisi, mereka juga kehilangan pelanggan di tengah Pandemi Covid-19.

“Tapi kemudian mereka membuat di instagramnya tawaran private diner bersama di apartemen mereka atau mereka datang ke tempat tinggal Anda. Dan itu banyak diminta, banyak dibeli. Jadi kreativitas seperti itu lumayan, cukup banyak penggemarnya,” ujarnya.

Adaptasi seperti itu, kata Prof. Rhenald, juga terlihar dalam dunia kesehatan, misalnya. Tiba-tiba dibuka counter-counter baru untuk melakukan PCR, pemeriksaan kesehatan, dengan menggunakan pendekatan drive thru.

“Bahkan beberapa lab sekarang sudah mulai menawarkan jasa pemeriksaan kesehatan datang ke rumah. Sehingga ini memberikan privacy dan lain sebagainya. Jadi ada sebuah ledakan besar yang harus kita waspadai, yang kita sebut sebagai “Ledakan Kreativitas”. Dan ledakan kreativitas ini menjalar ke mana-mana,” ujarnya.

Dari Mana Kreativitas Itu Muncul?

“Saya belajar dari putra saya yang tertua yang mempunyai toko online dan mempunyai sebuah fasilitas produksi, yaktu memproduksi balok untuk permainan atau alat-alat edukasi. Karena anak-anak tidak bersekolah dan tidak memerlukan permainan berkelompok itu di sekolah, dia juga mengalami kesulitan dalam penjualan,” katanya.

Tetapi, karena toko putranya itu sudah cukup dikenal di dunia maya, putranya dan rekan-rekan kerjanya di dalam tim bisa menciptakan produk-produk baru yang sangat inovatif dan ternyata dibutuhkan oleh masyarakat.

“Dia mengatakan kepada saya, produknya setiap minggu ada yang baru. Kalau tidak ada yang baru, maka tokonya tidak dikunjungi. Lumayan dia katakan, setiap produk selalu terjual kurang lebih seratus item. Setelah itu mereka bikin baru lagi, bikin baru lagi, bikin baru lagi, setiap minggu.

“Saya bertanya, dari mana kreativitas itu kalian dapatkan? Itu tidak mudah bagi saya. Akhirnya dia tunjukkan kepada saya,” kata Prof Rhenald dalam rekaman suara yang secara khsusus dia sampaikan untuk Pengakses Suara Surabaya Media.

Putranya dan teman-temannya itu mendapatkan begitu banyak ide dari beragam situs yang jumlahnya cukup banyak. Aplikasi yang bisa diakses secara mobile melalui ponsel pintar menurutnya juga cukup banyak.

“Salah satunya cukup familiar dengan kita. Bahkan mungkin ada di smartphone anda. Yaitu pinterest. Ketika saya buka dan saya dalami lagi, sampai akhirnya menjadi kecanduan mencari gagasan-gagasan dari pinterest, dan akhirnya saya bertanya kepada putra saya. Mengapa orang sekarang banyak yang membuka apa yang mereka punya? Bukankah itu sebagian adalah rahasia dan menjadi bagian dari jualan? Mereka menjawab, ‘sudah berbeda, sudah berubah’,” kata Prof. Rhenald.

Kaum muda sekarang, kata dia, mengutip jawaban putranya, lebih senang menciptakan komunitas, bergabung dalam komunitas, dan mereka bersedia open dan memberikan akses kepada karya-karya mereka.

“Orang bisa menyontek karya-karya mereka. Tapi (sebaliknya) mereka mendapatkan komunitas. Sehingga mereka bisa mendapatkan gagasan-gagasan kreatif dari sumber-sumber lain. Itu baru pinterest saja. Ada banyak apps lainnya yang memberikan gagasan-gagasan kreativitas dan itu menimbulkan ledakan ekonomi yang tidak kita lihat sehari-hari. Yang kita lihat hanya yang tampak mata. Hanya mal, rumah sakit, rumah ibadah, tempat wisata. Padahal dunia sudah berubah. Banyak sekali aspek-aspek yang tidak kelihatan. Di situlah terjadi ledakan kreativitas,” katanya.(den/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Senin, 25 Oktober 2021
34o
Kurs