Kamis, 24 September 2020

Begini Tips Jaga Keuangan Sehat Saat Ramadan dan PSBB Diterapkan

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Satu diantara lapak pedagang sayur dan kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional DTC Wonokromo. Foto: Totok suarasurabaya.net

Diprediksi pelaksanaan PSBB, bakal berimbas pada keuangan keluarga. Berkurangnya penghasilan atau justru besarnya pengeluaran. Dosen Unusa berbagai tips menjaga keuangan tetap sehat.

M. Ghofirin M.Pd., Dosen Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unusa, Sabtu (25/4/2020) bagikan tips menjaga keuangan tetap sehat saat diberlakukannya PSBB bersamaan Ramadan saat ini.

Bahkan saat gerakan dirumah saja, yang memberi kesempatan untuk keluarga mengencangkan ikat pinggang alias berhemat, tetapi pada faktanya justru sebaliknya, banyak kantong keluarga yang jebol terdampak Covid-19.

“Pengeluaran selama dirumah saja mengalami kenaikan yang drastis, seperti biaya listrik, biaya internet (kuota), biaya makanan (snack dan camilan), hingga pembelian vitamin. Apalagi masa pandemi Covid-19 tahun ini bersamaan dengan puasa Ramadan,” terang Ghofirin.

Kondisi ini, lanjut Ghofirin diperparah dengan sebagian keluarga mengalami penurunan penghasilan. Baik yang berprofesi sebagai karyawan, termasuk mereka yang memiliki profesi sebagai wirausahawan. Beberapa perusahaan sudah mulai merumahkan karyawannya, ada juga yang mengambil kebijakan penyesuaian upah.

Menyikapi hal tersebut, kata Ghofirin tentu harus dilakukan berberapa upaya untuk mengatur keuangan keluarga di tengah pandemi Covid-19 dan puasa Ramadan agar kondisi keuangan mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Pertama, evaluasi sumber penghasilan. Jika dampak korona sangat terasa pada sumber penghasilan, maka penyesuaian anggaran wajib dilakukan. Telusuri keuangan kita, apakah cash flow bulanan masih aman? Jika kita mendapat kesempatan bekerja dari rumah, apakah mampu menekan biaya atau malah menjadi sulit berhemat?

Kedua, susun ulang anggaran rumah tangga. Ini saatnya untuk menyusun kembali (redesign) anggaran (budget) keuangan keluarga. Ingat bahwa rumus anggaran rumah tangga adalah Y = C + S + I, dimana Y adalah sumber penghasilan, C adalah komsumsi, S adalah tabungan, dan I adalah investasi.

“Mari kita mulai berhitung berapa penghasilan kita saat pandemi Covid-19 dan puasa ini. Kemudian dari besaran penghasilan tersebut, alokasikan ke dalam kebutuhan sehari-hari sebesar 50% sampai 60%, kebutuhan berbagai macam tabungan, seperti pendidikan dan kesehatan sebesar 20% sampai 30% dan kebutuhan investasi sebesar 10% sampai 20%. Ini perlu diperhatikan,” ujar Ghofirin.

Ketiga, perbesar alokasi dana darurat. Dalam situasi yang tidak menentu saat pandemi, sebaiknya mengubah fokus tujuan keuangan keluarga dengan menambah saldo dana darurat sebagai cadangan.

“Dana darurat bisa didapat dengan mengambil alokasi dana tabungan (S) atau dana investasi (I). Mengingat fungsinya yang hanya boleh diambil dalam situasi darurat, simpanlah dana tersebut dalam satu rekening terpisah dari rekening kebutuhan harian,” lanjut Ghofirin.

Keempat, bedakan keinginan dan kebutuhan. Pada dasarnya aktivitas belanja dibagi dalam tiga kategori, pertama wajib artinya memang harus dipenuhi demi keberlangsungan hidup seperti bahan makanan dan minuman. Lalu, kebutuhan yaitu sesuatu yang bisa disesuaikan tetapi sifatnya tidak mendesak. Dan kemudian, keinginan yaitu sebatas hal yang diinginkan namun bisa ditunda pelaksanaannya, seperti liburan, dan hal-hal yang bersifat kesenangan. “Selain itu, jangan lupa untuk menahan diri melakukan pembelian dengan cicilan. Hindari berhutang agar keuangan tetap lancar,” pesan Ghofirin.

Kelima, tetap Istiqomah dalam bersedekah. Bersedekah saat Ramadan sangat dianjurkan, karena pahanya berlipat ganda. Oleh karena itu, tetaplah bersedekah untuk fakir miskin dan anak yatim, berapapun yang kita mampu.

“Gunakan alokasi dana investasi, karena sesungguhnya bersedekah merupakan investasi akhirat. Selain itu bersedekah diyakini masyarakat kita juga berfungsi sebagai tolak balak dan musibah,” ujar Ghofirin.

Keenam, membuat komitmen dalam manajemen keuangan. Memiliki komitmen yang teguh agar rencana dalam mengatur keuangan berjalan dengan baik. “Semua rencana di atas tidak akan berhasil jika tanpa ada komitmen yang besar pada diri kita bersama dengan keluarga,” pungkas Ghofirin, Sabtu (25/4/2020).(tok/iss)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Kamis, 24 September 2020
29o
Kurs