Senin, 28 September 2020

Novel Baru JK Rowling Dirayakan Warganet dengan Tagar RIPJKRowling

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
JK Rowling. Foto: Antara

JK Rowling baru saja merilis buku baru berjudul “Troubled Blood” tapi sehari sebelum peluncuran buku jagat Twitter ramai dengan cuitan dengan tanda pagar (tagar/hastag) #RIPJKRowling.

Banyak warganet (netizen) di Twitter menganggap bahwa karir JK Rowling secara resmi “tamat” dengan dirilisnya buku itu.

“Dalam kenangan JK Rowling. Dia tidak mati tapi dia sudah membunuh kariernya sendiri dengan membenci orang-orang trans dan tak akan ada yang kangen dia juga,” cuit salah satu warganet.

JK Rowling sebelumnya banyak menerima hujatan tentang komentarnya terkait komunitas trans. Kini dia kembali dihujat gara-gara karya terbarunya.

“Troubled Blood” adalah novel tentang pembunuh berantai yang berpakaian seperti perempuan saat dia melakukan teror pembunuhannya.

Novel ini mengikuti kisah Cormoran Strike seorang detektif swasta yang menginvestigasi pembunuh berantai cisgender pria berpakaian perempuan yang menyasar korban perempuan.

Menggunakan nama pena Robert Galbraith, “Trouble Blood” menjadi buku kelima serial kisah sang detektif Cormoran Strike.

Di buku kedua berjudul “The Silkworm”, Rowling menggambarkan salah seorang karakter trans sebagai sosok yang “tak stabil dan agresif”.

Dalam sebuah ulasan di The Telegraph dikutip Antara buku itu diberi nilai tiga bintang dari lima bintang.

“Inti cerita di buku ini adalah investigasi soal kasus tak terpecahkan hilangnya dokter Margot Bamborough pada tahun 1974 yang jadi korban pembunuh berantai Dennis Creed, seorang transvetif (orang yang gemar pakai baju yang didesain untuk lawan jenis).

“Orang bertanya-tanya apakah sikap Rowling pada isu-isu trans akan membuat sebuah buku punya pesan moral: jangan pernah percaya seorang pria yang pakai gaun,” ulas The Telegraph.

Pada Juni lalu, Rowling membela diri soal komentar kontroversialnya terkait transfobia di masa lalu dalam esai panjang, yang juga mengungkapkan bahwa dia diserang secara seksual sebagai seorang wanita muda.

“Saya khawatir tentang ledakan besar pada wanita muda yang ingin transisi dan juga tentang meningkatnya jumlah yang tampaknya detransisi (kembali ke jenis kelamin asli mereka), karena mereka menyesal mengambil langkah-langkah yang, dalam beberapa kasus, mengubah tubuh mereka tidak dapat ditarik kembali, dan mengambil kesuburan mereka,” tulisnya.

Dia dan 100 penulis dan cendekiawan lainnya juga menulis sebuah esai yang menyerukan berakhirnya budaya “cancel” batal, mengutip “intoleransi terhadap pandangan yang berlawanan,” pada bulan Juli.(ant/den)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Fabian Yudhistira

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
26o
Kurs