Senin, 29 November 2021

Mengakui Kekuatan Alam Setelah Bertahun-tahun Jadi Breeder Biawak

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan

Sejak 2007 menekuni dunia breeding (budidaya) biawak (Varanus Salvatori), Harvey Lienardo Pendiri Nyambek Lokal Indonesia (NLI) Project yang pernah berhasil menetaskan 80 ekor biawak dalam setahun tetap mengakui kekuatan alam.

“Seberapa banyak kita mampu menghasilkan spesies yang kita inginkan dari hasil breeding, alam masih menjadi breeder yang lebih hebat dari kita,” ujarnya kepada suarasurabaya.net.

Bisa dibilang, Lienardo adalah satu dari sangat sedikit breeder biawak di Indonesia. Dia menyebutkan, hanya ada sekitar tujuh breeder yang cukup diakui di sejumlah daerah di Indonesia.

Di Surabaya, Lienardo mengaku belum menemukan breeder yang melakukan percobaan silang genetik biawak sebagaimana yang dia lakukan selama kurang lebih tujuh tahun belakangan.

“Saya mulai fokus dari 2007 lalu. Tapi waktu itu belum tahu soal genetik. Baru 2014 itu saya mulai mempelajari genetik. Diskusi dengan beberapa teman yang dokter hewan,” ujarnya.

Di Puri Safira Regency, Menganti, dia jalankan budidaya sejumlah spesies biawak lokal Indonesia. Pernah pada 2018 lalu dia berhasil menetaskan antara 70-80 ekor biawak selama setahun penuh.

Ada sejumlah spesies utama yang berhasil dia kembangkan. Di antaranya Marble Madura, Sulphur, dan Black Dragon. Dia berharap, tahun depan dia punya koleksi biawak albino hasil budidayanya sendiri.

Di Tropical Land Expo di Hall Suara Surabaya Center, NLI Project memamerkan sejumlah biawak hasil budidayanya. Tidak hanya dipamerkan, biawak itu dijual dengan rentang harga Rp500 ribu-Rp100 juta.

“Range untuk normal Jawa antara Rp500 ribu-Rp1,5 juta. Untuk black dragon bisa Rp7,5 juta-Rp8,5 juta. Sulfur antara Rp10 juta-Rp15 juta. Kalau albino antara Rp85-Rp100 jutaan,” ujarnya.

Tidak hanya mendapatkan kepuasan dalam hal hobi mengembangbiakkan biawak, dari bisnis reptil ini Lienardo juga mampu meraih pundi-pundi keuntungan. Dia juga bisa berkolaborasi dengan bisnis kreatif lainnya.

Salah satu wujud kolaborasi itu adalah kaos bertema reptil yang diproduksi oleh distro Think Snake di Jawa Tengah. Koleksi kaos-kaos bergambar biawak NLI Project itu juga bisa didapatkan di Tropical Land.

Tropical Land adalah pameran reptil dan tanaman hias eksotis yang menjadi ajang saling bertukar informasi dan pengalaman para penghobi reptil dan tanaman hias persembahan Suara Surabaya Media.

Acara ini digelar sejak Jumat (19/11/2021) kemarin sampai hari ini, Minggu (21/11/2021) malam pukul 20.00 WIB. Ada 35 tenant yang unjuk gigi memamerkan reptil dan tanaman hias koleksinya.(den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Senin, 29 November 2021
27o
Kurs